Re-visioning
mission of theological Education from Seminary to University
Latar Belakang
Masalah
Dalam paper ini saya ingin membagi
pengalaman kami dalam pendidikan teologi sejak dari sekolah Teologi (semacam
seminari) sampai menjadi fakultas Teologi
dengan program studi S1 (undergraduate
programme) dan S2 (postgraduate programme) pada Universitas Kristen Indonesia
Maluku. Mudah-mudahan pengalaman ini berguna bagi kita dalam menggumuli visi
dan misi pendidikan teologi dalam
conference ini.
Pendidikan teologi di Maluku,
Indonesia bagian Timur, sudah berusia lebih dari satu abad, dan terus
mengalami perkembangan dan perubahan dirinya sesuai dengan perkembangan
pendidikan dan masyarakat di Indonesia. Dalam proses perkembangan dan perubahan
itu selalu timbul ketegangan , pada satu pihak, Gereja mengharapkan pendidikan teologi terus memainkan peran sebagai fungsi gereja
untuk melayani kebutuhan gereja yaitu:
sebagai lembaga yang menelorkan tenaga
para pendeta dan sebagai lembaga pembinaan dan pengkajian teologi bagi kebutuhan
Gereja . Pada pihak lain, pendidikan teologi yang sudah menjadii sebuah Fakultas merupakan bagian
integral dari universitas, harus pula tunduk kepada peraturan dan perundangan
dalam system pendidikan Nasional di Indonesia. Dalam hal ini, pendidikan
teologi harus menjadi pendidikan keilmuan yang harus juga mengikuti persyaratan
dan ketentuan keilmuan yang berlaku di kalangan perguruan tinggi ,
dan teologi sebagai science senantiasa terbuka kepada pendekatan dan
metodologi ilmu-ilmu lain (lintas ilmu), serta sebagai lembaga pendidikan yang terbuka kepada
semua orang yang mau belajar teologi sebagai ilmu, tanpa mengenal perbedaan
kelamin, ras, suku budya dan agama.
Dalam hubungan ini, Fakultas
Teologi diperlakukan sama dengan
Fakultas-fakultas yang lain (fakultas teknik, ekonomi, sosial-politik,
kesehatan).Pendidikan teologi sebagai ilmu disamakan dengan pendidikani
ilmu-ilmu yang lain. Pendidikan teologi
sebagai ilmu yang mengutamakan data empiric, terkesan semakin jauh dari penghargaan
terhadap warisan iman dan spiritualitas gereja. Teologi hendak dijadikan sains
yang obyektif-ilmiah. Dengan demikian,
jurang antara pendidikan teologi di dalami Universitas dengan Gereja
semakin melebar. Pendidikan teologi di
Universitas lebih dilihat sebagai pendidikan keilmuan, yang menjadi
tanggung-jawab Yayasan Perguruan tinggi dan Pemerintah. Dengan demikian, Perhatian
dan tanggung jawab Gereja terhadap pendididkan teologi di Universitas semakin
berkurang sehingga terkesan pendidikan teologi di Universitas berjalan sendiri-sendiri, seolah-olah tidak lagi berhubungan langsung
dengan kebutuhan kehidupan dan pelayanan Gereja.
TANTANGAN bagi PENDIDIKAN TEOLOGI
Pendidikan teologi di Maluku dimulai sejak tahun 1885 dari sekolah teologi (Stovil) yang berfungsi
sebagai seminary yang bertujuan untuk
mempersiapkan tenaga-tenaga pendeta pribumi. Tujuan dan misi pendidikan
teologi selalu terarah kepada pendidikan
kependetaan dan melayani kebutuhan Gereja. Sekalipun Sekolah teologi bertumbuh
menjadi Sekolah Tinggi theologia, namun pertumbuhan status kelembagaan ini sama sekali tidak pernah
menggeserkan tujuan pendidikan teologi
sebagai pendidikan kependetaan. Semua
orang tua yang memasukkkan anaknya ke sekolah theologia, selalu mengharapkan
kelak ia akan menjadi seorang pendeta yang baik. Suasana pendidikan teologi
pada waktu itu lebih mencerminkan pendidikan seminari yang mempunyai relasi
yang akrab dengan Gereja. Misi pendiddikan teologi jelas terarah kepada pendidikan kepenndetaan, agar outputnya kelak memiliki kemampuan
intelektual, spiritual dan praktikal
untuk mengabdi sebagai pendeta di jemaat-jemaat yang tersebar luas di
kepulauan Maluku bahkan di Indonesia.
Berhubungan
dengan perkembangan ilmu dan tuntutan kebutuhan masyarakat akan pendidikan
tinggi, maka sekolah tinggi theologia diubah menjadi Universitas Kristen dengan
berbagai fakultas. Fakultas teologi hanya merupakani salah satu fakultas di
antara fakultas-fakultas yang lain. Ilmu teologi hanya merupakan salah satu
ilmu di antara ilmu-ilmu lain dalam iklim perguruan tinggi yang lebih
mengutamakan urusan kualitas keilmuan daripada
urusan iman, spiritual dan kebutuhan pelayanan gereja.
Memang di Indonesia baru pada
tahun 1996 teologi dapat diterima dalam
enkilpoedia keilmuan di Indonesia –hasil perjuangan Persetia. Sebelumnya
teologi tidak dianggap sebagai ilmu, hanya sebagai agama. Sebab itu, teologi
dimasukkan dalam pembinaan dan pengawasan kementerian agama, bukan dalam
perguruan tinggi di bawah kementerian pendidikan nasional. Sesudah pendidikan
teologi diterima sebagai bagian dari pendidikan keilmuan di Indonesia, maka
sekolah-sekolah teologi atau fakultas Teologi di Universitas diwajibkan
diakreditasikan oleh Badan Akreditasi Nasional. Bila sekolah-sekolah teologi
atau Fakultas Teologi di Universitas, tidak diakreditasi oleh BAN, maka segera
akan ditutup oleh pemerintah.
Sekalipun secara formal teologi
sudah diakui sebagai ilmu, tetapi
masalah pendidikan teologi tetap merupakan problem yang belum terpecahkan
secara tuntas. Dengan memasukkan pendidikan teologi sebagai ilmu , maka
pendidikan teologi menjadi sub-sistem dari system pendidikan nasional dan disejajarkan dengan pendidikan ilmu-ilmu
lainya pada umumnya. Metodologi pendidikanTeologi sebagai ilmu harus dapat juga
iditerima dalam metodologi keilmuan pada
umumnya. Dalam keilmuan di dunia
akademik, pengertian tentang ilmu masih
diwarnai oleh pengaruh kuat pemikiran positivism. Ilmu selalu dikaikan analisis
dan verifikasi data empiric, yang dapat diinderawi, dan menolak pengalaman meta-empirik, pengalaman
supernatural, yang dianggap sebagi
sesuatu yang bukan ilmiah. Rasionalisme
dan empirisisme yang mempengaruhi pendidikan teologi sejak zaman pencerahan
terus mendapat tempat yang semakin penting dalam pendidikan teologi di
Universitas sekarang ini, sedangkan spiritualitas dan tradisi iman semakin
kurang dihargai. Dalam hubungan ini,
teologi sebagai ilmu mulai cenderung
dipisahkan dengan iman dan spritualitas serta tradisi kekristenan. Pendidikan
teologi mulai dilepaskan dari tanggung jawabnya
terhadap pelayanan dan fungsi gereja. Pendidikan teologi di
Universitas cenderung menjadi studi
agama-agama., sosiologi agama, antropologi agama, psikologi agama,perbandingan
agama, dll. Teologi menjadi antropologi.
Dengan demikian, pendidikan teologi sebagai llmu semakin jauh dari pengalaman
spiritual dan iman. Pemahaman tentang Allah lebih merupakan pengetahuan dan
konsep teoritik yang abstrak daripadai menjadi pengalaman iman yang hidup dalam
kehidupan gereja dan masyarakat.
Re-visioning Mission of Theological Education
Menghadapi
tantangan perubahan misi pendidikan teologi di Universitas, kami berupaya
merumuskan kembali visi dan misi pendidikan teologi sebagai berikut:
Pada
satu pihak, pendidikan teologi di Universitas, tidak boleh dilepaskan dari kebutuhan pelayanan Gereja. Pendidikan
teologi sebagai ilmu memang harus terus berdialog dengan berbagai ilmu
(pendekatan lintas ilmu) dan sekaligus terbuka untuk menggunakan berbagai ilmu
untuk berteologi, terutama untuk menganalisis dan mengkaji realitas
sosial-ekonomi, politik, budaya, agama-agama. Namun, pada pihak lain, teologi sebagai ilmu iman, tidak boleh
dilepaskan dari kehidupan dan pengalaman iman. Itu berarti, pendidikan teologi
tidak boleh terjebak pada dualisme iman dan ilmu, seolah-oleh ilmu teologi bisa
memahami realitas, lepas dari kehidupan dan pengalaman iman -spiritual komunitas kristiani.
Namun,
pada pihak lain, visi dan misi pendidikan teologi sebaiknya tidak hanya berorientasi untuk menghasilkan output tenaga kependetaan
untuk memenuhi kebutuhan pelayanan Gereja, tetapi juga perlu berorientasi
kepada pendidikan yang menghasilkan para teolog yang mampu terlibat dalam
kehidupan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam hal ini,
pendidikan teologi sebagai ilmu, selalu terbuka kepada ilmu-ilmu lain
(pendekatan lintas ilmu dan lintas disiplin).
Apapun tujuan pendidikan teologi, misi pendidikan teologi harus menjadi pendidikan
yang holistik, yang mencakup kompetensi intelektual, spiritual, emosional,
sosial dan pelayanan, baik kepada
gereja maupun kepada masyarakat. Aspek intelektual, spiritual dan
ministerial formation tidak boleh dilepaskankan dari pendidikan teologi as science
of faith -faith as an inner demand for
theology. Theology as a science of faith
may not be separated from supernatural dimension in and through faith. Without
faith there is no scientific theology.
Dari
penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa misi pendidikan teologi sebagai ilmu
iman memang tidak boleh lagi dibatasi hanya pada pendidikan yang menghasilkan tenaga kependetaan untuk
memenuhi kebutuhan pelayanan gereja, tetapi juga perlu terbuka kepada semua
orang (Christian or non-christian), yang ingin belajar teologi sebagai ilmu
(menjadi teolog), walaupun teologi sebagai ilmu iman tidak pernah boleh dipisahkan dari pengalaman
iman dan spiritual serta etik-moral komunitas beriman.
No comments:
Post a Comment