Tuesday, October 4, 2022

Re-visioning mission of theological Education from Seminary to University

Latar Belakang  Masalah

Dalam paper ini saya ingin membagi pengalaman kami dalam pendidikan teologi sejak dari sekolah Teologi (semacam seminari) sampai  menjadi fakultas Teologi dengan program studi  S1 (undergraduate programme) dan S2 (postgraduate programme) pada Universitas Kristen Indonesia Maluku. Mudah-mudahan pengalaman ini berguna bagi kita dalam menggumuli visi dan misi pendidikan teologi dalam  conference ini.

Pendidikan teologi di Maluku, Indonesia bagian Timur,  sudah  berusia lebih dari satu abad, dan terus mengalami perkembangan dan perubahan dirinya sesuai dengan perkembangan pendidikan dan masyarakat di Indonesia. Dalam proses perkembangan dan perubahan itu selalu timbul ketegangan , pada satu pihak, Gereja  mengharapkan pendidikan teologi  terus memainkan peran sebagai fungsi gereja untuk melayani kebutuhan gereja yaitu:  sebagai  lembaga yang menelorkan tenaga para pendeta dan sebagai lembaga pembinaan dan pengkajian teologi bagi kebutuhan Gereja . Pada pihak lain, pendidikan teologi yang sudah   menjadii sebuah Fakultas merupakan bagian integral dari universitas, harus pula tunduk kepada peraturan dan perundangan dalam system pendidikan Nasional di Indonesia. Dalam hal ini, pendidikan teologi harus menjadi pendidikan keilmuan yang harus juga mengikuti persyaratan dan ketentuan   keilmuan  yang berlaku di kalangan perguruan tinggi , dan  teologi sebagai science  senantiasa terbuka kepada pendekatan dan metodologi ilmu-ilmu lain (lintas ilmu), serta  sebagai lembaga pendidikan yang terbuka kepada semua orang yang mau belajar teologi sebagai ilmu, tanpa mengenal perbedaan kelamin, ras, suku budya dan agama.

Dalam hubungan ini, Fakultas Teologi  diperlakukan sama dengan Fakultas-fakultas yang lain (fakultas teknik, ekonomi, sosial-politik, kesehatan).Pendidikan teologi sebagai ilmu disamakan dengan pendidikani ilmu-ilmu yang lain.  Pendidikan teologi sebagai ilmu yang mengutamakan data empiric, terkesan semakin jauh dari penghargaan terhadap warisan iman dan spiritualitas gereja. Teologi hendak dijadikan sains yang obyektif-ilmiah. Dengan demikian,  jurang antara pendidikan teologi di dalami Universitas dengan Gereja semakin melebar. Pendidikan teologi  di Universitas lebih dilihat sebagai pendidikan keilmuan, yang menjadi tanggung-jawab Yayasan Perguruan tinggi dan Pemerintah. Dengan demikian, Perhatian dan tanggung jawab Gereja terhadap pendididkan teologi di Universitas semakin berkurang sehingga terkesan pendidikan teologi di Universitas berjalan sendiri-sendiri,   seolah-olah tidak lagi berhubungan langsung dengan kebutuhan kehidupan dan pelayanan Gereja.

 TANTANGAN bagi  PENDIDIKAN TEOLOGI

Pendidikan teologi di Maluku  dimulai sejak tahun 1885  dari sekolah teologi (Stovil) yang berfungsi sebagai seminary  yang bertujuan untuk mempersiapkan tenaga-tenaga pendeta pribumi. Tujuan dan misi pendidikan teologi  selalu terarah kepada pendidikan kependetaan dan melayani kebutuhan Gereja. Sekalipun Sekolah teologi bertumbuh menjadi Sekolah Tinggi theologia, namun pertumbuhan  status kelembagaan ini sama sekali tidak pernah menggeserkan  tujuan pendidikan teologi sebagai pendidikan kependetaan.  Semua orang tua yang memasukkkan anaknya ke sekolah theologia, selalu mengharapkan kelak ia akan menjadi seorang pendeta yang baik. Suasana pendidikan teologi pada waktu itu lebih mencerminkan pendidikan seminari yang mempunyai relasi yang akrab dengan Gereja. Misi pendiddikan teologi jelas terarah kepada  pendidikan kepenndetaan, agar  outputnya kelak memiliki kemampuan intelektual, spiritual dan praktikal  untuk mengabdi sebagai pendeta di jemaat-jemaat yang tersebar luas di kepulauan Maluku bahkan di  Indonesia.

Berhubungan dengan perkembangan ilmu dan tuntutan kebutuhan masyarakat akan pendidikan tinggi, maka sekolah tinggi theologia diubah menjadi Universitas Kristen dengan berbagai fakultas. Fakultas teologi hanya merupakani salah satu fakultas di antara fakultas-fakultas yang lain. Ilmu teologi hanya merupakan salah satu ilmu di antara ilmu-ilmu lain dalam iklim perguruan tinggi yang lebih mengutamakan urusan kualitas keilmuan daripada  urusan iman, spiritual dan kebutuhan pelayanan gereja.

Memang di Indonesia baru pada tahun 1996  teologi dapat diterima dalam enkilpoedia keilmuan di Indonesia –hasil perjuangan Persetia. Sebelumnya teologi tidak dianggap sebagai ilmu, hanya sebagai agama. Sebab itu, teologi dimasukkan dalam pembinaan dan pengawasan kementerian agama, bukan dalam perguruan tinggi di bawah kementerian pendidikan nasional. Sesudah pendidikan teologi diterima sebagai bagian dari pendidikan keilmuan di Indonesia, maka sekolah-sekolah teologi atau fakultas Teologi di Universitas diwajibkan diakreditasikan oleh Badan Akreditasi Nasional. Bila sekolah-sekolah teologi atau Fakultas Teologi di Universitas, tidak diakreditasi oleh BAN, maka segera akan ditutup oleh pemerintah.

Sekalipun secara formal teologi sudah diakui sebagai  ilmu, tetapi masalah pendidikan teologi tetap merupakan problem yang belum terpecahkan secara tuntas. Dengan memasukkan pendidikan teologi sebagai ilmu , maka pendidikan teologi menjadi sub-sistem dari system  pendidikan  nasional  dan disejajarkan dengan pendidikan ilmu-ilmu lainya pada umumnya. Metodologi pendidikanTeologi sebagai ilmu harus dapat juga iditerima  dalam metodologi keilmuan pada umumnya.  Dalam keilmuan di dunia akademik,  pengertian tentang ilmu masih diwarnai oleh pengaruh kuat pemikiran positivism. Ilmu selalu dikaikan analisis dan verifikasi data empiric, yang dapat diinderawi,  dan  menolak pengalaman meta-empirik, pengalaman supernatural, yang  dianggap sebagi sesuatu yang  bukan ilmiah. Rasionalisme dan empirisisme yang mempengaruhi pendidikan teologi sejak zaman pencerahan terus mendapat tempat yang semakin penting dalam pendidikan teologi di Universitas sekarang ini, sedangkan spiritualitas dan tradisi iman semakin kurang dihargai.  Dalam hubungan ini, teologi sebagai ilmu  mulai cenderung dipisahkan dengan iman dan spritualitas serta tradisi kekristenan. Pendidikan teologi mulai dilepaskan dari tanggung jawabnya  terhadap  pelayanan dan  fungsi gereja. Pendidikan teologi di Universitas cenderung  menjadi studi agama-agama., sosiologi agama, antropologi agama, psikologi agama,perbandingan agama,  dll. Teologi menjadi antropologi. Dengan demikian, pendidikan teologi sebagai llmu semakin jauh dari pengalaman spiritual dan iman. Pemahaman tentang Allah lebih merupakan pengetahuan dan konsep teoritik yang abstrak daripadai menjadi pengalaman iman yang hidup dalam kehidupan gereja dan masyarakat.

 Re-visioning  Mission of Theological Education

Menghadapi tantangan perubahan misi pendidikan teologi di Universitas, kami berupaya merumuskan kembali visi dan misi pendidikan teologi sebagai berikut:

Pada satu pihak, pendidikan teologi di Universitas, tidak boleh dilepaskan  dari kebutuhan pelayanan Gereja. Pendidikan teologi sebagai ilmu memang harus terus berdialog dengan berbagai ilmu (pendekatan lintas ilmu) dan sekaligus terbuka untuk menggunakan berbagai ilmu untuk berteologi, terutama untuk menganalisis dan mengkaji realitas sosial-ekonomi, politik, budaya, agama-agama. Namun, pada pihak lain,  teologi sebagai ilmu iman, tidak boleh dilepaskan dari kehidupan dan pengalaman iman. Itu berarti, pendidikan teologi tidak boleh terjebak pada dualisme iman dan ilmu, seolah-oleh ilmu teologi bisa memahami realitas, lepas dari kehidupan dan  pengalaman iman -spiritual  komunitas kristiani.

Namun, pada pihak lain, visi dan misi pendidikan teologi sebaiknya tidak hanya  berorientasi  untuk menghasilkan output tenaga kependetaan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan Gereja, tetapi juga perlu berorientasi kepada pendidikan yang menghasilkan para teolog yang mampu terlibat dalam kehidupan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam hal ini, pendidikan teologi sebagai ilmu, selalu terbuka kepada ilmu-ilmu lain (pendekatan lintas ilmu dan lintas disiplin).

Apapun tujuan pendidikan teologi, misi pendidikan teologi harus menjadi pendidikan yang holistik, yang mencakup kompetensi intelektual, spiritual, emosional, sosial dan pelayanan, baik  kepada gereja  maupun kepada  masyarakat. Aspek intelektual, spiritual dan ministerial formation tidak boleh dilepaskankan dari pendidikan teologi as science of faith  -faith as an inner demand for theology. Theology  as a science of faith may not be separated from supernatural dimension in and through faith. Without faith there is no scientific theology.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa misi pendidikan teologi sebagai ilmu iman memang tidak boleh lagi dibatasi hanya pada pendidikan yang  menghasilkan tenaga kependetaan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan gereja, tetapi juga perlu terbuka kepada semua orang (Christian or non-christian), yang ingin belajar teologi sebagai ilmu (menjadi teolog), walaupun teologi sebagai ilmu iman  tidak pernah boleh dipisahkan dari pengalaman iman dan spiritual serta etik-moral komunitas beriman.

No comments:

Post a Comment

Pemimpin yang Rela Berkoban Untuk Melayani

Pemimpn yang Rela Berkorban untuk Melayani Pengantar     Judul “Pemimpin Yang Rela Berkoban untuk Melayani”, terinspirasi dari Alkitab, khus...