Tuesday, October 4, 2022

 Allah Kehidupan dan Ciptaan-Nya: suatu kajian Teologis

 

 Pendahuluan

Dalam persidangan Sinode Gereja Protestan Maluku ke 37, tahun 2016, diangkat tema “Allah Kehidupan, tuntunlah kami untuk Membela dan Merawat kehidupan (Kej 2:7,15-17). Tema ini diangkat dari pergumulan Gereja Protestan Maluku  terhadap berbagai masalah kehidupan, baik kehidupan manusia maupun kehidupan alam semesta. Kualitas kehidupan ciptaan Allah telah banyak mengalami degradasi menuju kehancuran. Hampir setiap hari dapat didengar dan dilihat berbagai peristiwa baik lokal, nasional, global yang memprihatinkan, karena ternyata kehidupan ini terus didominasi dan dieksploitasi oleh kuasa-kuasa kematian yang destruktif. Berbagai masalah sosial-teologis dalam kehidupan gereja, masyarakat, bangsa dan negara    memperlihatkan manusia semakin dijerumuskan ke dalam jurang globalisasi budaya keserakahan yang merusak dan menghancurkan kehidupan bersama semua ciptaan Allah.Tema “Allah kehidupan, tuntunlah kami untuk membela dan merawat kehidupan”(Kej2:7,15-17) merupakan sebuah doa, yang hendak mengungkap sikap dan pengakuan iman gereja bahwa Allah itu pusat, sumber, penopang dan tujuan Kehidupan. Karena itu, Allah itu mencintai dan memperdulikan kehidupan ini. Pengakuan iman terhadap Allah kehidupan menimbulkan pertanyaan, mengapa Allah  begitu mencintai dan perduli dengan kehidupan ini? Apa makna pengakuan iman itu terhdap kehidupan umat? Bagaimana seharusnya sikap umat dalam meresponi sikap iman mereka kepada Allah kehidupan di dalam kehidupan bergerja, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,  sehingga sikap iman mereka itu berdampak secara signifikan dan relevan terhadap semua ciptaan Allah? Untuk menjawab masalah-masalah tersebut. maka perlu dibahasa  beberapa pemikiran teologis tentang  Allah kehidupan dan bagaimana seharusnya ekspresi dan perwujudan pengakuan iman gereja kepada Allah kehidupan di dalam kehidupan seluruh ciptaanNya?

Allah kehidupan yang mencintai kehidupan

Gambaran Allah  yang  melandasi seluruh hidup dan karya Yesus adalah gambaran tentang Allah kehidupan yang mencintai kehidupan. Kehidupan diselimuti oleh rahmat dan kasih-setia Allah. Seluruh ciptaan Allah dipenuhi dengan kemuliaan Allah, kemurahan dan pemeliharaan Allah (Mat 6:26-33). Allah mencintai kehidupan adalah Allah yang  berbelas kasih (Mat 18:21-35) dan bermurah hati terhadap semua ciptaanNya(Mat 20:1-16) . KasihNya tidak membeda-bedakan manusia; Dialah “yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat 5: 45). KasihNya tak terpahami, melampaui segala perhitungan untung-rugi (Luk 15:11-32).  Allah, Sang pencinta kehidupan yang berkenan  melibatkan kita dalam tindakan dan karyaNya di bumi merupakan  wujud konkrit dari belas kasih, kebaikan dan kemurhanNya bagi seluruh ciptaanNya.

Gambaran Yesus tentang Allah yang mencintai kehidupan tanpa pamrih mengungkap sikap belas kasih (compassion) dan kemurahan Allah bagi semua ciptaan-Nya. Seperti gembala yang baik Ia datang untuk memberi hidup bagi domba-dombanya. Ia datang supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan (Yoh 15:9-10).

Gambaran Allah yang mencintai dan memberi kehidupan sebenarnya sama sekali tidak bertentangan gambaran Allah yang tersembunyi (Allah yang transenden). Karena Allah yang imanen adalah juga Allah yang transenden. Allah itu sangat dekat dengan kehidupan ciptaan-Nya, tetapi Ia juga secara kualitatif tidak sama dengan ciptaanNya. Ciptaan-Nya tidak ilahi dan tidak dapat disamakan dengan sang PenciptaNya. Karena itu gereja menolak pandangn panteisme yang menyamakan ciptaan dengan Sang Pencipta.

Gambaran Allah yang  transenden baru menjadi persoalan kalau Allah digambarkan sebagai Allah yang jauh dari kehidupan ciptaanNya (supernatural theism) dan tidak perduli dengan penderitaan ciptaanNya.[1] Ia hanya suka mengamat-amati dan mengawasi ciptaanNya kalau ada yang kedapatan melakukan kesalahan dan dosa, ia langsung bertindak untuk menghakimi dan menghukum mereka. Dalam hubungan ini, Allah digambarkan seperti seorang penguasa yang keras dan sewenang-wenang, suka marah,  suka menghakimi  dan membalas dendam atas dosa dan kesalahan manusia. Gambaran Allah seperti ini bukan saja melahirkan  rasa berdosa, rasa bersalah dan tidak berharga pada diri manusia, tetapi juga sikap yang tidak perduli dan tidak ramah terhadap kehidupan ciptaanNya. Bahkan Gambaran Allah yang keras dan kaku,  bisa membuahkan  sikap dan perilaku yang penuh kebencian , permusuhan dan kekerasan  terhadap sesama ciptaanNya.

Allah Pencipta dan Pemilik Kehidupan

Pengakuan bahwa Allah itu pencipta dan pemilik kehidupan berarti manusia hendak ditempatkan sebagai makhluk ciptaan-Nya, bukan  sang pencipta dan pemilik kehidupan.  Anugerah Kehidupan itu diberikan bukan  karena keunggulan manusia tetapi karena kasih dan rahmat Allah bagi semua ciptaan-Nya (manusia dan alam). Itu berarti manusia tidak boleh  menjadikan dirinya sebagai penguasa dan pemilik  yang  menguasai dan memanfaatkan kehidupan hanya untuk kepentingannya sendiri, karena Allah memberi kehidupan itu bukan saja untuk manusia melainkan juga untuk seluruh ciptaan-Nya. Manusia diciptakan dari tanah, karena itu ia adalah juga bagian dari alam (Kej.2:7) yang kehidupannya bersumber dari Allah. Oleh karena itu, gereja perlu menggeserkan  paradigma antroposentris yang menjadikan manusia sebagai pencipta dan pemilik kehidupan seluruh ciptaan. Kehidupan yang diciptakan dan dimiliki Allah tidak lagi berpusat pada manusia sebagai pusat segala sesuatu dan alam hanya dimaknai demi kepentingan manusia. Demikian juga , kehidupan yang diciptakan Allah tidak hanya berpusat pada alam (ekosentrisme), alam demi dan untuk alam. Kehidupan yang berpusat pada Allah memandang seluruh ciptaan Allah sebagai kesatuan dan keutuhan yang semua unsur saling membutuhkan dan menopang, saling memberi dan menerima secara proporsional dan berkesinambungan.

Sikap dan perilaku manusia yang mengakui Allah sebagai pencipta dan pemilik kehidupan ialah memperlakukan seluruh ciptaanNya sebagai milik Allah yang baik dan  patut dihargai dan dihormati. Karena itu, manusia bersikap positif terhadap ciptaan Allah. Ia terpanggil untk menatalayani ciptaan-Nya dan mempertanggungjawabkannya kepada Allah sebagai Sang Pencipta dan pemilik kehidupan. Manusia tidak boleh menjadikan dirinya sama seperti Allah sebagai pencipta dan pemilik kehidupan (Kej. 3:5) . Kesombongan ini adalah akar dosa yang merusak dan menghancurkan seluruh ciptaan  milik Allah.

Walaupun manusia itu juga bagian dari alam yang terbatas, tetapi ia diciptakan sebagai imago dei (gambar Allah). Akan tetapi, Imago dei tidak bersangkutan dengan sifat-sifat manusia atau kedudukan khusus manusia yang lebih unggul daripada ciptaan yang lain, tetapi dengan relasi manusia dengan Allah dan  sesama ciptaanNya. Hakikat manusia ialah karena ia diciptakan dalam relasi yang fungsional dengan Allah dan sesama ciptaanNya.   Imago dei mengacu kepada harkat dan martabat manusia, seluruh kemanusiaannya. Penghormatan kepada harkat dan martabat manusia adalah juga penghormatan kepada Allah.  Karena itu, ia diciptakan untuk menerima dan memberi , mengelola dan memelihara, memanfaatkan dan melestarikan alam  dalam kebebasan dan tanggung-jawab kepada Allah kehidupan. Sebagai Imago dei, manusia bukanlah raja yang memiliki kekuasaan mutlak untuk menguasai ciptaan lain dengan sewenang-wenang. Manusia adalah penatalayan yang dipercayakan Allah untuk melayani seluruh ciptaan dan mempertanggungjawaban penatalayanan dan pelayanannya kepada Allah kehidupan.

Allah , Pemelihara dan Penebus Kehidupan

Pandangan khas tentang Allah di masa pencerahan disebut deisme.Dalam deisme Allah tidak lagi dipahami sebagai dekat dengan manusia, yang mengerjakan mujizat-mujizat dan bertindak di dalam sejarah, memperdulikan manusia dan memelihara alam semesta.  Proses-proses alam semesta berjalan menurut hukum alam, tanpa campur tangan Allah. Orang masih percaya kepada Allah tetapi Allah tidak berurusan dengan dunia, sama sekali tidak berhubungan dengan manusia dan alam.[2] Pandangan deisme ini bertentangan dengan pengakuan bahwa Allah itu bukan saja pencipta, tetapi juga pemelihara dan penebus kehidupan yang turut terlibat dalam kehidupan ciptaan-Nya.

Dalam iman Kristen, Allah tidak hanya diakui sebagai pencipta dan pemilik kehidupan, tetapi juga sebagai pemelihara dan penebus kehidupan. Karena itu Allah menjadikan manusia sebagai mitraNya (kawan sekerjaNya)  untuk membela, melindungi, memelihara dan merawat kehidupan.   Allah menciptakan semua ciptaanNya itu baik bahkan amat baik (Kej 1: 10,12,17,21,25,31). Itu berarti kebaikan dan keindahan kehidupan ciptaanNya perlu terus dipelihara, dirawat bahkan dibela sehingga tidak  “dirampok” , dirusaki dan dihancurkan oleh ulah manusia. Dalam hubungan ini gereja perlu membuka telinga untuk mendengar jeritan manusia dan alam yang  telah ditindas, dieksploitasi dan dirusakan oleh ulah manusia sendiri. Jeritan rakyat kecil adalah jeritan untuk hidup. Jeritan  perjuangan untuk membela dan merawat hidup tanpa menyerah. Jeritan mereka  didengar oleh Allah (Kel 3:1-8). Jeritan untuk hidup tidak hanya diteriakkan oleh manusia tetapi juga seluruh alam semesta (Yes 24:3-8; Rm 8:19-23) yang menderita akibat keserakahan manusa. Dengan demikian, gereja perlu mengemban misi keadilan Allah kepada semua ciptaan-Nya dalam rangka pertanggungjawaban kepada Sang Pencipta.

Allah yang berinkarnasi dalam Kristus membawa shalom Allah bagi seluruh ciptaan dengan jalan menebusnya dari pengaruh dan kuasa dosa. Ia tidak saja menebus  dan memperdamaikan diri-Nya dengan manusia tetapi juga dengan alam. Dalam Yesus Kristus Allah telah memperdamaikan diriNya dengan seluruh ciptaan-Nya dan menyelamatkan mereka (Kol 1:15-20; Ef. 1: 3-14;  2 Kor 5:18-19; Rm 8: 19-22; 1 Kor 15-:24-28).[3]

Kehidupan yang holistik dan transformatif

Kehidupan yang diberikan Allah adalah kehidupan  yang “berkelimpahan”( Yoh 10:110b)  bagi semua ciptaan-Nya. Kehidupan yang berkelimpahan itu cukup bagi  kebutuhan semua ciptaan-Nya, tetapi tidak cukup bagi keserakahan manusia. Karena itu kekayaan kehidupan yang beranekaragam (keragaman species)   harus dikelola, dipelihara dan dilindungi secara bertanggung-jawab untuk kesejahteraan semua ciptaan-Nya. Dengan demikian, upaya  gereja mengembangkan kesejahteraan hidup tidak boleh hanya berorientasi pada kepentingan manusia tetapi kebutuhan seluruh ciptaan-Nya. Itu berarti Gereja harus terus menentang dan melawan segala bentuk penguasaan dan eksploitasi-destruktif -karena keserakahan manusia- yang mengakibatkan ketidakadilan sosial dan ketidakadilan ekologis yang    berdampak secara menyeluruh bagi generasi di masa kini maupun di masa depan.

Kehidupan yang diberikan Allah adalah kehidupan yang utuh dan menyeluruh (holistik). Karena itu, pandangan tentang kehidupan yang dualistik-dikotomik perlu ditolak dalam iman Kristen.  Ada kecenderungan manusia untuk mengkotak-kotakkan hidup secara dikotomis-dualistis, baik relasi eksternal manusia dengan kehidupan dunia  di sekitarnya maupun relasi internal manusia dengan dirinya sendiri .  Gambaran  dikotomis-dualistik itu  mempertentangkan antara yang superior dengan inferior dalam kehidupan, antara lain: roh dan tubuh, spiritual dan material, transenden dan imanen, sakral dan profan, iman dan kerja,  gereja dan dunia, kontemplasi dan aksi,  orang kudus dan pendosa, baka dan fana, ketuhanan dan kemanusiaan, personal dan sosial.[4]  Akibatnya terjadi cara pandang terhadap kehidupan yang mengagungkan yang rohani-spiritual dan mengabaikan yang jasmani-material atau sebaliknya.

Kehidupan yang bersumber dari Allah adalah kehidupan yang utuh dan menyeluruh, saling menopang, melengkapi dan tergantung satu dengan yang lain sebagai ciptaan Allah. Karena itu, Gereja perlu menghayati kehidupan yang utuh dan menyeluruh itu dalam seluruh pelayanan (diakonia), kesaksian dan persekutuan,  sehingga gereja  tidak terperangkap dalam pandangan yang dualistik-dikotomik antara jasmani dan rohani, material dan spiritual,  sakral dan profan, manusia dan alam, dunia dan surga.  Kehidupan yang utuh dan menyeluruh memberi ruang bagi Allah dalam seluruh aspek kehidupan manusia: sosial, ekonomi, politik,  iptek, budaya, agama, ekologi. Seluruh aspek kehidupan ini merupakan kesatuan yang utuh, saling ketergantungan dan keterhubungan secara fungsional dan dinamis dalam kehidupan (web of life). Dengan demikian, orang beriman   tidak menjadi terasing dari kehidupannya yang nyata dan holistik.

Kehidupan yang diberikan Allah adalah juga kehidupan yang saling terhubung dan tergantung satu dengan yang lain. Semua unsur saling membutuhkan dan saling menopong dalam  keseimbangan yang dinamis.  Cara pandang ini membuat kita semakin menyadari betapa penting setiap unsur dalam kehidupan untuk membangun kehidupan yang lebih berkualitas. Pengembangan kualitas hidup manusia tidak boleh dipisahkan dari pengembangan kualitas alam dan sebaliknya.

Kehidupan yang saling terhubung dan tergantung membuat kita semakin menyadari dengan rendah hati akan keterbatasan kehidupan yang selalu membutuhkan satu dengan yang lain. Upaya untuk memutuskan kesalingterhubungan dan ketergantungan justru membawa petaka dan bencana bagi keutuhan dan kesatuan hidup. Kesalingterhubungan dan ketergantungan perlu terus dikembangkan dan digalakkan  dalam relasi pemimpin dan umat, relasi manusia dan alam, relasi gereja  dan masyarakat, relasi umat Kristen dengan umat lain, relasi manusia dengan dirinya sendiri. Dengan demikian, gereja dapat membangun jejaring kehidupan (web of life) di bumi sebagai rumah bersama.

Kehidupan yang diberikan Allah adalah juga kehidupan yang  berkelanjutan secara dinamis dan transformatif. Kehidupan yang ada sekarang akan terus berubah dan diubah  menuju transformasi total pada penggenapan eskatologis. Dalam proses transformasi kehidupan itu Allah kehidupan melibatkan semua ciptaanNya untuk mengambil bagian di dalamnya. Karena itu, segala masalah yang menyangkut kehidupan dewasa ini tidak membuat umat berputus-asa dan apatis, tetapi dalam  pengharapan kepada Allah kita terus turut mengambil-bagian dalam proses perubahan, perbaikan dan perkembangan kehidupan yang berkelanjutan menuju  transformasi total, “langit baru dan bumi baru”(Why 21)

Beberapa Konsekuensi iman kepada Allah kehidupan

Iman kepada Allah kehidupan membawa beberapa konsekuensi bagi kehidupan bergereja, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara antara lain:

Pertama, gereja terpanggil untuk mengemban tugas-panggilannya untuk mengelola, memelihara, menyelamatkan dan melestarikan seluruh ciptaan Allah (bdk. Kej 1:26-28; Mzm 8). Tugas dan tanggungjawab Gereja untuk membela, merawat dan menyelamatkan kehidupan adalah bagian integral dari  panggilan untuk  menghadirkan tanda-tanda Injil Kerajaan Allah atau shalom, yakni: keadilan, kesejahteraan, perdamaian, persaudaran dan keutuhan ciptaan.  Upaya membela, merawat dan menyelamatkan kehidupan merupakan juga upaya membuat manusia semakin menghormati dan menghargai harkat dan martabat sesama ciptaan Allah (manusia dan alam)   sebagai wujud kasih Allah kepada dunia (bdk.  Kej. 12:1-9; Luk 10:2537; Yer 22:3; Am. 5:15-24; Yoh 3:16).

Kedua, sikap syukur kepada Allah kehidupan mengandaikan pengakuan akan kasih dan rahmat Allah yang tak terbatas dan  sikap kerendahan hati gereja yang menyadari akan keterbatasan manusia dalam pelayanan, kesaksian dan persekutuannya sekaligus pengakuan akan kasih dan rahmat Allah yang menyertai semua ciptaan-Nya.  Kerendahan hati itu dibutuhkan untuk melihat kesalingterkaitan dan kesalingtergantungan antara para pelayan khusus dan pelayan umum, antara pemimpin dan umat, antara gereja dengan agama-agama dan denominasi lain, antara kualitas hidup manusia dengan kualitas alam. Dengan sikap kerendahan hati ini, kita terhindar dari kultus individu dan pendeta-sentris dan Jemaat-sentris. Kita semakin memahami perjalanan gereja sebagai kehidupan yang utuh dan menyeluruh. Kita semakin menyadari betapa penting membangun sikap kesetaraan dalam kesalingterhubungan dan ketergantungan yang dinamis dan kreatif dengan seluruh ciptaan Allah (web of life,”jejaring kehidupan). Kita bersyukur karena Allah telah, sedang dan akan terus berkarya di dalam kehidupan manusia dan alam melalui kesalingterhuhubungan dan kesalingtergantungan yang setara, sejajar, kritis  dan dinamis,baik secara internal maupun eksternal, baik secara horizontal maupun  vertikal. Sikap syukur ini mendorong gereja untuk terus memberdayakan  seluruh ciptaan  Allah sehingga proses kesalingterhubungan dan kesalingtergantungan ini (jejaring kehidupan) secara positif dan kreatif membuahkan buah-buah kehidupan baru sebagai ciptaan Allah yang baru kini dan di masa depan.

Agar terwujud kesalingterhubungan dan kesalingtergantungan kehidupan, maka kita perlu membangun kehidupan “bersama-sama dan kebersamaan” yang  secara teologis juga  bersumber dan berakar pada iman kepada Allah tritunggal, Allah pesekutuan, Allah perichoresis (saling terkait satu sama lain dalam ikatan kasih), sehingga sekalipun ada perbedaan, mereka selalu bersama-sama terkait satu dengan yang lain dalam persekutuan. Dengan demikian, bersama-sama dengan semua ciptaan dalam persekutuan merupakan kunci untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dan alam. Gereja tidak dapat dan tidak boleh sendiri meningkatkan kualitas hidup manusia dan alam karena itu tidak sejalan dengan kehendak Allah. Tugas panggilan untuk menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah di dunia tidak boleh dipikul gereja sendiri. Dalam bimbingan dan tuntunan Roh Kudus, gereja perlu terus membuka ruang bagi peran-serta seluruh ciptaan (jejaring kerja sama), termasuk umat beragama, yang berkehendak baik guna memikul tugas dan tanggungjawab bersama.

Ketiga, Salah satu masalah kehidupan  yang penting dewasa ini ialah bagaimana manusia mampu membangunan ekonomi yang ramah lingkungan dan berkesinambungan. Karena itu, Gereja yang berurusan dengan masalah ekonomi (globalisasi pasar), perlu memberi perhatian khusus pada  sumber daya manusia dan sumber daya alam dalam menghadapi pembangunan  ekonomi di era globalisasi. Dalam hubungan ini, pemberdayaan sumber daya manusia dan alam secara bertanggungjawab perlu ditempatkan dalam kerangka diakonia gereja. Karena itu pemberdayaan sumber daya manusia dan alam perlu diprioritaskan ketimbang penguatan institusi gereja. Institusi gereja penting dan perlu sejauh ia tidak menjadi tujuan pada dirinya sendiri tetapi alat untuk pemberdayaan umat (manusia) dan alam secara holistik.

Oleh karena itu, gereja perlu mengembangkan teologi ekonomi (oikonomia) untuk menjawab masalah ekonomi dewasa ini. Untuk itu dari perspektif teologis, pertama-tama perlu ditekankan bahwa masalah   ekonomi adalah juga persoalan iman. Karena itu, ekonomi (oikonomos) perlu dipahami sebagai upaya penatalayanan  harta-milik Allah di bumi. Dari perspektif biblis Allah itu yang memiliki seluruh ciptaanNya: “Tuhanlah yang empunyai bumi dan segala isinya, dunia serta segala yang diam di dalamnya”(Mzm24:1); Tuhan selalu berkata bahwa “apa yang ada di seluruh kolong langit adalah kepunyaanKu” (Ayb. 41:2), Namun demikian, Allah mempercayakan pengelolaan, pengembangan, pemeliharaan, perlindungan harta-milik-Nya kepada manusia. Manusia adalah penatalayan harta-milik Allah dan bukan pemilik yang mutlak. Karena itu, wewenang dan kekuasaannya harus dilaksanakan dengan menaklukkan diri kepada Allah. Apa pun yang ia kerjakan, ia lakukan sebagai “oikonomos”Allah. Ia harus mempertanggungjawabkannya kepada Allah. Ia tidak boleh menggunakan kekuasaannya secara sewenang-wenang dan tanpa batas demi kepentingannya sendiri.  Dalam kaitan ini, gereja tidak boleh men-despiritualisasi makna oikonomia sehingga mengakibatkan pemisahan yang tajam dan dikotomis antara ekonomi dengan diakonia,  seolah-olah ekonomi  menjadi  urusan di luar gereja sedangkan diakonia menjadi urusan di dalam gereja.[5]

Sebagai penatalayan milik Allah, manusia bertanggung jawab kepada Allah atas kesejahteraan seluruh ciptaan yang mendiami bumi (oikumene). Itu berarti  manusia sebagai penatalayan harta-milik Allah, tidak boleh menggunakan harta-milik Allah hanya untuk kepentingan dirinya sendiri dan mengabaikan kesejahteraan sesama manusia dan sesama ciptaan yang lain (alam). Karena itu, keadilan sosial dan keadilan ekologis harus mendapat ruang dalam pembangunan ekonomi. Mengejar pertumbuhan ekonomi dengan mengabaikan keadilan sosial da:n ekologis bertentangan dengan kehendak Allah.

Dalam hubungan ini, Gereja perlu terus mendukung pembangunan ekonomi yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan bagi semua ciptaan. Menurut Hans Kung “globalisasi ekonomi dan teknologi hampir selalu memperluas masalah ekologi global:meningkatnya kerusakan alam dan polusi laut dan sungai hingga peracunan dan pemanasan atmosfir, dan lobang lapisan ozon…akhirnya ..juga mengakibatkan globalisasi kejahatan yang terorganisasi”.[6]  Karena itu, aktivitas ekonomi dan bisnis bukan wilayah yang bebas moral melainkan wilayah yang membutuhkan landasan moral yang kokoh. Kepentingan ekonomi tidak boleh dibatasi kepada kepentingan profit semata (nilai ekonomis), tanpa penghargaan terhadapan lingkungan hidup. Kesakralan alam tidak boleh diganti dengan gambaran dunia yang murni bersifat materi dan bernilai ekonomis, sehingga nilai alam hanya bersifat instrumental dan tidak memiliki nilai intrinsik pada dirinya.

Ekonomi sebagai penatalayanan harta-milik Allah tidak boleh merugikan apalagi menghancurkan sesama ciptaan (manusia dan alam), terutama mereka yang miskin, lemah, tertindas dan terpinggirkan. Karena itu, Gereja perlu mendukung pembangunan ekonomi yang berpihak pada mereka yang miskin, lemah, tertindas dan terpinggir (Am. 4:1-3; 5:11; Kel 23:6; Ul 15:7-11;  21:21-24; UL 24;19-22,dsb). Pembangunan ekonomi yang berpihak kepada mereka yang miskin, lemah, tertindas dan terpinggirkan (preference for the poor) merupakan keharusan panggilan Gereja , bukan sekedar sebuah pilihan.

Penatalyanan harta milik Allah yang benar pun tidak boleh didasarkan pada sikap yang menolak dan mengabaikan ekonomi dan bisnis, seolah-oleh aktivitas ekonomi dan bisnis dianggap kotor dan bukan masalah iman. Hilangkan mitos bahwa ekonomi dan bisnis itu urusan mamon, bukan urusan Tuhan. Sekalipun demikian, memuja ekonomi dan bisnis sebagai satu-satunya penyelamat seluruh ciptaan Allah sama buruk dengan mempersetankan ekonomi dan bisnis sebagai bagian dari diakonia gereja. Sikap Gereja yang harus dibangun bukan mengabaikan ekonomi dan bisnis dalam diakonia gereja, melainkan mempertanggung-jawabkannya kepada Allah agar manusia yang terlibat dalam ekonomi dan bisnis, tidak terjatuh kepada etos keserakahan global (etos pemuasan diri sendiri) sehingga globalisasi ekonomi tidak membuahkan etos dan struktur keserakahan. Dalam melawan etos dan struktur keserakahan global, gereja perlu terus  mendukung sistem ekonomi global yang dilakukan atas dasar prinsip cinta kasih yang berorientas kepada Allah, manusia dan alam semesta, dan mengutamakan keadilan, damai-sejahtera, solidaritas dan sukacita bersama, dari semua untuk semua.

Keempat, dalam melawan etos dan struktur keserakahan , Gereja perlu mendukung, menghayati  dan menjalani spiritualitas keugaharian. Spiritulitas keugaharian merupakan bagian dari proses pemuridan yaitu proses pendewasaan iman umat  agar dapat memilih  gaya dan etos hidup  yang berkecukupan, tidak berkelebihan dan tidak berkekurangan , jauh dari segala bentuk keserakahan di seluruh bidang hidup manusia. Hidup ugahari adalah wujud pembebasan dari kungkungan keserakahan manusia. Hidup berkecukupan tidak bertujuan hanya untuk mencukupkan diri sendiri, tetapi mencukupkan semua ciptaan Allah.

Kelima, salah satu ancaman serius terhadap kehidupan dalam masyarakat dewasa ini adalah masalah HIV-AIDS. Dalam menghadapi ancaman HIV-AIDs  secara serius , kita perlu bertolak  dari cara pandang yang holistik  terhadap HIV-AIDS (Human Immunodeficiency Virus – Acquired Immunodeficiency Syndrome) . HIV-AIDS bukan semata-mata persoalan penyakit dan kesehatan fisik, tetapi juga persoalan yang berkaitan dengan sejumlah dimensi kehidupan (roh, jiwa, pikiran, perasaan, lingkungan) yang perlu dipahami dalam konteks lokal, nasional dan global.[7]  Oleh karena itu, Gereja tidak saja berjuang melawan penyebaran virus HIV-Aids, tetapi juga berjuang untuk kepenuhan hidup yang holistik dan membangun komunitas-komunitas yang inklusif di mana saudara yang terinfeksi HIV-AIDS (Sadha/odha) dapat hidup dan mati secara bermartabat.

Masalah HIV-AIDS bukan sekedar masalah pencegahan dan penanganan penyebaran virus HIV-AIDS, tetapi juga masalah rasa malu, rasa bersalah, stigmatisasi sosial, diskriminasi, kekerasan yang berdampak kepada kualitas hidup manusia, baik secara fisik, psikis dan sosial-religius. Hak-hak dasar mereka yang terinfeksi HIV-AIDS perlu dibela supaya mereka tidak kehilangan akses kepada perawatan medis, pekerjaan, pendidikan, perkawinan, perumahan  dan keamanan sosial yang mengakibatkan keterasingan sosial, kemiskinan, stigmatisasi dan diskriminasi. Jadi, HIV-AIDS tidak saja berkaitan dengan masalah penyakit fisik, tetapi juga berkaitan hak-hak azasi manusia, keadilan sosial serta penghormatan kepada harkat dan martabat manusia. Dengan demikan  HIV-AIDS tidak boleh saja menjadi masalah medis dan sosial-budaya melainkan juga masalah teologis, etis dan spiritual

Gereja, bersama-sama dengan pemerintah dan komunitas-komunitas yang lain (termasuk agama-agama yang lain), bisa memainkan peranan penting dan berharga untuk memberi dukungan, pemahaman, pengetahuan, konseling dan perawatan yang holistik terhadap  saudara yang terinfeksi HIV-AIDS (sadha/odha). Dalam kaitan ini, Gereja perlu membentuk kelompok-kelompok pastoral gerejaw dan memberi landasan-landasan teologis yang memadai menyangkut masalah-masalah seperti:  penyakit dan penderitaan, dosa dan penghukuman Allah,  penyembuhan holistik, sikap terhadap orang yang lemah, termarjinalisasi, testigmatisasi dan terdiskriminasi.

Pengembangan spiritualitas yang   berbelas kasih (compassion), berbela rasa, bermurah hati dan keramahtamahan (hospitality)  perlu terus ditumbuh-kembangkan dalam kehidupan bergerjea dan bermasyarakat. Selain itu , gereja perlu membentuk komunitas-komunitas basis gerejawi dan manusiawi yang inklusif dan perduli dalam memperjuangkan peningkatan kualitas hidup manusia dan alam, khususnya Sadha/odha  dan juga  kelompok-kelompok rentan lainnya (seperti: anak-anak, perempuan, disabilitas dan  LBGTIQ).

 

Daftar Pustaka

Banawiratman. Y.B., Sumartana Th.,Widyatmadja Y.P, eds. Merawat & Berbagi Kehidupan. Yogyakarta: Kanisius,1994
Boff Leonardo,  Kekristenan: Sebuah Ikhtisar.translated by Josef Maria Florison. Maumere:  Penerbit Ledalero, 2004
Borg. J. Marcus. The God We Never Knew: Beyond Dogmatic Religion to A More Athentic Contemporary Faith .New York: HarperCollins, 2009.
Borrong , Robert, P. Etika Bumi Baru. 3rd ed. Jakarta: BPK, 2003
Brown, Robert, MacAfee. Spirituality and Liberation: Overcoming the Great Fallacy. Philadelphia: The Westminster Press,1998
Darmaputera Eka. Bisnis, Ekonomi Dan Penatalayanan. Jakarta: BPK, 1990
Deane-Drummond, Celia. Teologi dan Ekologi Buku Pegangan. 2nd ed. Translated by Robert P Borong. Jakarta: BPK, 2003
Kung Hans. Etika Ekonomi-Politik Global. Translated by Ali Noer Zaman. Yogyakarta: Penerbit Qalam, 2002
Kristiyanto Eddy,et al. eds. Dinamika Hidup Beriman : Bunga Rampai Refleksi Teologis.Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2002
Longchar Wati., Senturias Erlinda., Kambodiji Alphinus., eds. HIV And Inclusive Community: Asian Theological and Biblical Perspectives. Hongkong: CCA, 2013
Magnis-Suseno Franz. Menalar Tuhan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2006
Martin Harun. “Paulus dan Penyelamatan Kosmos”. Forum Biblika: Jorunal Ilmiah Populer,no. 14 (2001): 67-85
Singgih Gerrit E. “Globalisasi dan Kontestualisasi Menuju Pemahaman Baru tentang Realitas diri”. dalam Teologi Ekonomi. Edited by Robert Setio, 18-31. Jakarta: BPK, 2002
Wardaya Baskara,T. Spiritualitas Pembebebasan: Refleksi atas iman Kristiani dan Praksis Pastoral. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1995.

 



[1] Lihat: Marcus.  J. Borg, The God We Never Knew: Beyond Dogmatic Religion to A More Athentic Contemporary Faith (New York: HarperCollins, 2009), 9-32
[2] Franz Magnis Suseno, Menalar Tuhan (Jogyakarta: Penerbit Kanisius, 2006), 53-54
[3] Lihat. Martin Harun. “Paulus dan Penyelamatan Kosmos”. Forum Biblika: Jorunal Ilmiah Populer,no. 14 (2001): 67-85
 [4] Lihat: Robert MacAfee Brown, Spirituality and Liberation: Overcoming the Great Fallacy (Philadephia: The Westminster Press, 1988), 25-26
[5] Emanuel Gerrit Singgih, “Globalisasi dan Kontekstualisasi Menuju Pemahaman Baru tentang Realitas Diri”,  dalam Teologi Ekonomi, ed. Robert Setio (Jakarta: BPK, 2002), 28
[6] Hans Kung, Etika Ekonomi-Politik Global: Mencari Visi Baru Bagi Kelangsungan Agama di Abad XXI. trans. Ali Noer Zaman. (Yogyakarta: Penerbit Qalam), 279
[7] Prwate Khid-am, “HIV and AIDSL Need For New Perspectives”.  dalam HIV And Inclusive Community: Asian Theological and Biblical Perspectives,.ed. Alphinus Kambodji, Erlinda N. Senturias, Wati Longchar (Hongkong: CCA, 2013), 3-9

No comments:

Post a Comment

Pemimpin yang Rela Berkoban Untuk Melayani

Pemimpn yang Rela Berkorban untuk Melayani Pengantar     Judul “Pemimpin Yang Rela Berkoban untuk Melayani”, terinspirasi dari Alkitab, khus...