Tuesday, October 4, 2022

 

EKKLESIOLOGI   PEREMPUAN


Pengantar

Ekklesiologi adalah ajaran tentang Gereja yang mempunyai bidang cakupan yang luas. Ekklesiologi itu mencakup: sifat, hakikat dan struktur Gereja, misi, kesaksian, persekutuan, pemberitaan dan pelayanan gereja. hubungan gereja dengan Kristus dan Rohkudus,  hubungan gereja  dengan eskatologis, hubungan oikumenis antar gereja dan denominasi, hubungan gereja dengan negara, hubungan gereja dengan agama-agama lain, hubungan gereja dengan dunia, gereja untuk anak-anak, pemuda, perempuan, orang miskin dan lain-lain. Dengan demikian, eklesiologi mempunyai pengertian yang luas.
Walaupun ekklesiologi itu mencakup bidang studi yang luas, namun kalau kita berbicara tentang ekklesiologi perempuan, maka ekklesiologi itu harus bertitik-tolak dari perspektif pengalaman perempuan, baik pengalaman yang positif (pembebasan, pengaharapan, solidaritas dll) maupun pengalaman yang negatif ( pelecehan, kekerasan, penindasan, diskriminasi, ketidakadilan jender, stereotyping, marginalisasi, dominasi dan subordinasi, dll).  

Ekklesiologi Perempuan yang lepas dari perspektif pengalaman perempuan i bisa melahirkan ajaran tentang  gereja (ekklesiologi) yang bias gender dan  patriarkhal -  hirarkhis yang menindas dan memarjinalisasi kaum perempuan itu sendiri. Ekklesiologi semacam itu dapat menjadi legitimasi teologis-religius terhadap segala bentuk diskriminatif dan ketidakadilan gender dalam kehidupan dan pelayanan gereja.

 PEREMPUAN DAN GEREJA

Ekklesiologi yang  bertolak dari perspektif  pengalaman perempuan mendorong perempuan untuk berani  mengungkapkan secara kritis pengalaman mereka tentang gereja, misalnya: bagaimana perempuan pendeta melihat, merasakan dan mengalami, eksistensi dan perannya dalam kehidupan bergereja? Apakah struktur gereja masih menempatkan posisi perempuan sebagai pembantu atau pelaksana kegiatan gereja, bukan sebagai pengambil keputusan yang menentukan?  Apakah kebijakan dan peraturan gereja masih  bersifat  bias gender dan diskriminatif bagi perempuan, baik pendeta maupun non-pendeta?  Sejauh-manakah pengaruh sistem patriarkhi  masih mendominasi sistem bergereja dan bermasyarakat dewasa ini?

Model ekklesologi warisan barat yang bersifat teritorial-parokial juga  tidak terlepas dari pengaruh sistem patriakhal( Laki-laki lebih penting , superior dan berharga daripada perempuan). Sistem nilai patriarkhal sudah berurat akar dalam sistem gereja dan  telah terinternalisasi dalam pola pikir dan perilaku warga gereja. Oleh karena itu, tidak heran ,kalau laki-laki atau perempuan sulit melepaskan diri dari sistem nilai budaya tersebut. Baik laki-laki maupun perempuan sering mempraktekkannya tanpa sadar dan tanpa sikap yang kritis, sehingga nilai-nilai  budaya patriakhal itu terus terwarisi dari generasi ke generasi. Nilai-nilai patriarkhal itu juga telah mengambil bentuk dikotomis-hirarkhis  dalam kehidupan bergereja, seperti hubungnan dikotomis-hierarkhis antara atasan dan bawahan, laki-laki dan perempuan, pendeta dan awam, dsb.

Lebih dari itu ,tidak jarang sistem dan praktek bergereja yang menindas kaum perempuan disertai pula dengan pembenaran teologis dan legitimatis religius   dalam  bahasa-bahasa  “keagamaan dan kesalehan”. Oleh karena itu, perempuan perlu  terus melakukan pengujian terhadap roh-roh yang membelenggui dirinya dalam kehidupan bergereja dan bermasyarakat. Pengujian roh-roh itu merupakan tugas yang penting agar dosa struktural yang melembaga dalam sistem bergereja dapat dikoreksi dan dibarui.

Dalam hubungan ini, baik laki-laki maupun perempuan, perlu mendapat pelatihan kepekaan gender ( Gender sensitivity trainning). Selain itu, baik laki-laki maupun perempuan perlu terus mengembangkan dan memperjuangkan secara sengaja dan terencana model gereja yang mencerminkan komunitas yang egaliter  (egalitarian community). Komunita s yang egaliter  adalah kemuridan yang sederajat dan semartabat ( Discipleship of equals) antara laki-laki dan perempuan, antara atasan dan bawahan, antara pendeta dan awam. Model komunitas yang egaliter tidak akan terjadi secara alamiah tanpa perjuangan. Oleh karena itu, baik laki-laki maupun perempuan harus terus mengambil prakarsa dalam pengembangan model-model gereja dan nilai-nilai egaliter untuk membangun persaudaraan yang sejati, baik dalam model menggereja yang kategorial, transteritorial maupun komunitas-komunitas basis gerejawi dan komunitas basis manusiawi. Hanya dengan demikian dapat diharapkan akan terjadi pembaruan dan perubahan yang lebih mendasar terhadap sistem dan pola gereja  tradisional yang  teritorial-parokhial  yang  berakar pada sistem nilai  budaya patriarkhal. Ekklesiologi perempuan yang egaliter dapat merupakan sumbangan yang dinamis dan sginifikan bagi pembaruan Gereja dan masyarakat.

 PEREMPUAN,TRADISI GEREJA DAN KITAB SUCI

Pengembangan eklesiologi perempuan bukan saja  mendapat hambatan  dari sistem gereja yang berurat-akar pada sistem nilai budaya patriarkhal, tetapi juga dari tradisi gereja dan Alkitab/kitab suci  yang  tidak terlepas  pula dari pengaruh sistem masyarakat patriarkhal.  Namun, itu bukan berarti ekklesiologi perempuan boleh mengabaikan akar sejarah, tradisi gereja dan Alkitab. Oleh karena itu,  pengembangan ekklesiologi perempuan perlu didasari pada penafsiran yang kritis dan kreatif terhadap tradisi Gereja dan Alkitab. Perlu upaya untuk menafsirkan ulang sejarah Israel dan sejarah Kekristenan mula-mula dari perspektif perempuan.  Selain itu, perlu dikembangkan berbagai model bergereja dari gambaran-gambaran ekklesiologis yang feminis. Di samping itu, perlu dilakukan dekonstruksi terhadap pikiran dan penafsiran teologis  terhadap Alkitab dan penggunaan  bahasa Alkitab yang bias gender. Karena sistem nilai budaya patriarkhal,  diskriminasi dan ketidakadilan gender bukan hanya masalah orang yang hidup di abad ini, tetapi juga dapat dijumpai dalam budaya masyarakat pada zaman Alkitab. Oleh karena itu, perlu perubahan paradigma dalam membaca Alkitab, yaitu membaca Alkitab dari perspektif pengalaman perempuan, sehingga Firman Allah dapat dibebaskan dari teks-teks Alkitab yang patriarkhal dan bias gender.

 PELAYANAN PEREMPUAN YANG TAK KELIHATAN

Dalam kehidupan begereja, perempuan, baik pendeta maupun non-pendeta, telah banyak terlibat dalam pelayanan gereja dewasa ini, bahkan boleh dikatakan bahwa pelayanan gereja tidak akan berjalan dengan baik tanpa peran dan kehadiran perempuan. Namun demikian, tak dapat disangkal bahwa peranan dan kedudukan perempuan dalam pelayanan gereja kerap tidak kelihatan  dan kurang signifikan. Hal ini bukan karena mereka tidak memiliki potensi dan kemampuan, tetapi karena telah terjadi marjinalisasi peran mereka dalam pelayanan gereja. Mereka kerap kali diberi peranan “pembantu”(mengurus konsumsi, dll), bukan peran pengambil keputusan yang menentukan dalam pelayanan gereja. Karena itu, walaupu secara kuantitatif peran perempuan besar, tetapi secara kualitif kurang mendapat peran dan kedudukan yang setara dan signifikan dalam pelayanan gereja.

Perjuangan memperluas peran domestik perempuan kepada peran publiknya, bukan demi perempuan itu sendiri, tetapi juga demi pembebasan manusia seutuhnya:  laki-laki, perempuan, orang tua, pemuda, anak, orang miskin, dll, bahkan seluruh alam ciptaan Allah (ekofeminisme) dari kungkungan sistem yang  tidak adil dan menindas mereka. Dengan demikian, kualitas kemitraan sejajar antara manusia dengan sesama dan manusia dengan alam semakin bertumbuh dan berkembang menuju persaudaran sejati di dalam Tuhan.

 PEREMPUAN YANG MEMBERDAYAKAN

Perempuan yang memberdayakan dirinya, gereja dan masyarakat harus dapat menyentuhkan seluruh bidang hidup manusia (ekonomi, sosial-politik, budaya, spiritualitas, agama, dll). Namun, upaya ini tidak cukup hanya berorientasi pada kegiatan-kegiatan penyadaran (konsientisasi) , pelatihan dan pencerahan melalui kegiatan-kegiatan seperti ceramah, seminar, diskusi, pelatihan, dll. Pemberdayaan perempuan semacam itu menjadi mubasir dan kurang signifikan kalau perempuan tidak mengorganisir dirinya secara sinergis, terpadu, terarah dan sistematik dalam berbagai organisasi dan gerakan-gerakan perempuan, baik di tingkat internasional, nasional, regional maupun lokal.

Membangun jejaring (networking) di antara berbagai gerakan atau organisasi perempuan, baik di dalam maupun di luar gereja, merupakan kebutuhan dan kekuatan yang dapat mempercepatkan proses pembaruan dan perubahan dalam kehidupan bergereja dan bermasyarakat.

 

 

No comments:

Post a Comment

Pemimpin yang Rela Berkoban Untuk Melayani

Pemimpn yang Rela Berkorban untuk Melayani Pengantar     Judul “Pemimpin Yang Rela Berkoban untuk Melayani”, terinspirasi dari Alkitab, khus...