Pemimpn yang Rela Berkorban untuk Melayani
Pengantar
Judul “Pemimpin Yang Rela Berkoban untuk Melayani”, terinspirasi dari Alkitab, khususnya ucapan Yesus dalam Perjanjian Baru. Dalam Markus 10:45 dikatakan bahwa “…Anak Manusia..datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang”. Dalam Injil Yohanes juga dikatakan “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberi nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya (Yoh 10:11). Dari dua gambaran tentang pelayan dan gembala, tampaknya mengorbankan nyawa merupakan bagian dari panggilan pelayan dan gembala. Karena itu, di bawah ini akan dibahas tentang makna mengorbankan nyawa bagi pemimpin sebagai pelayan dan gembala.
Makna mengorbankan Nyawa dan implikasinyai
Apakah yang dimaksudkan dengan “mengorbankan nyawa”? Apakah rela mengorbankan nyawa sama artinya dengan rela mati?. Dalam Alkitab (Misalnya: Mat 2:20;6:25; 10:39; 11:29; 12:18; 20:28; 22:37; 26:38) Istilah” nyawa”(pseukhe) bukan merupakan bagian atau unsur tertentu dalam diri manusia, tetapi mengacu yang seluruh totalitas diri atau pribadi manusia, sehingga “nyawa” selalu berkaitan dengan seluruh hidup yang utuh sebagai makhluk yang hidup. Makhluk yang bernyawa adalah makhluk hidup. Hidup yang dimaksudkan di sini bukan hanya hidup religius-spiritual (hubungan dengan Allah) melainkan hidup sosial (hubungan dengan manusia) dan hidup ekologis (hubungan dengan alam semesta). Dengan demikian, pemimpin yang rela mengorbankan nyawa untuk melayani adalah pemimpin rela memberi diri dan hidupnya secara utuh dan menyeluruh untuk melayani semua ciptaan-Nya. Ia berani mempertaruhkan seluruh hidupnya demi orang-orang yang dipimpinnya.
Pemimpin yang rela memberi totalitas dirinya atau pribadinya secara utuh berarti ia memimpin dengan memberi seluruh dirinya secara utuh kepada orang yang dipimpinnya. Seluruh totalitas diri yang utuh itu mencakup: aspek intelektual, emosional, fisik, sosial, spiritual. Totalitas dirinya yang utuh itu perlu terus dipengaruhi oleh Kristus atau Allah agar ia mampu mempengaruhi hidup orang lain dalam kepemimpinannya di seluruh bidang hidup. Karena itu, seluruh dirinya yang utuh itu, perlu tersentuh dan terjamah oleh Kristus atau Allah, baru ia dapat menjadi pemimpin yang melayani dengan spiritualitas yang sehat. Dengan kata lain, tanpa penyerahan dirinya secara utuh, seorang pemimpin akan mengalami spiritualitas yang tidak sehat. Spiritualitas tidak sehat itu karena ia mengalami “split-personality”(kepribadian yang terpecah) dalam hidup dan kepemimpinannya. Dalam kepemimpinan Ia kelihatannya sibuk melayani tetapi tidak pernah sungguh-sungguh memberi seluruh totalitas dirinya secara utuh dan penuh dalam pelayanan. Akibatnya.ia tidak pernah menjadi pemimpin yang melayani secara total. Ia melayani tanpa makna dan arah. Ia melayani demi kepentingannya sendiri, bukan demi orang yang dilataninya.
Pemimpin yang tidak rela memberi totalitas dirinya secara utuh, juga akan menampakkan ciri-ciri spiritualitas yang tidak sehat dalam kepemimpinannya (Scazzero: 32-48). Di luar kelihatanya ia ramah, baik , sabar, tulus dan bahagia, tetapi di dalam dirinya penuh kerapuhan, kepura-puraan, kebohongan, frustrasi, emosi yang labil, kejenuhan, keletihan, tertekan, kesepian, lapar dan haus akan perhatian dan kasih sayang. Ia begitu aktif dan sibuk bekerja sehingga tidak lagi memiliki waktu untuk perenungan dan kontemplasi tentang apa yang dikerjakannya. Ia tidak lagi memiliki waktu untuk membaca tanda-tanda zaman, belajar dari kehidupan yang terus berubah dengan cepat dan mendasar. Akibatny, kehidupan spiritualitasnya menjadi berantakan. Pengalaman dengan Allah dan sesama tidak pernah menyentuh ke akar-akar batinnya. Ia menjadi Pemimpin yang sibuk bagi Allah tetapi tidak hidup bersama Allah. Ia bergerak tanpa arah, bersibuk diri tanpa makna. Akibatnya, keletihan tanpa tahu untuk apa semua itu. Pelayanan menjadi aktivisme tanpa nilai dan karakter.
Dalam kepemimpinan seorang pemimpin yang tidak sehat secara spiritual, dinamika Kuasa Roh Kudus yang membarui semakin terganjal dalam rutinisme, formalisme dan verbalisme pelayanannya (Darmaputera:34-38). Rutinisme membuatnya secara mekanis melakukan apa yang biasa ia lakukan dari waktu ke waktu. Kepemimpinannya seperti mumi, kelihatannya hidup tetapi sesungguhnya sudah mati. Ia enggan mencari rute pembaruan, malas mencari terobasan baru. Ia lebih memilih mempertahankan apa yang sudah ada daripada bersusah-payah mencari hal-hal yang baru, bahkan ia bersikap tertutup terhadap segala bentuk koreksi, kriitik dan pembaruan. Formalisme membuatnya selalu bersikap serba resmi bak seorang birokrat.Segala harus berjalan sesuai dengan prosedur dan aturan tanpa memperdulikan perubahan kebutuhan dan situasi. Rantai birokrasi yang panjang dan aturan yang berbelit-belit adalah kesukaannya. Celakanya, ia menganggap kalau ia sudah menjalani prosedur dan aturan yang rapih dan tertib, ia sudah melayani orang yang dipimpinnya dengan baik. Verbalisme membuatnya menjadi pemimpin yang banyak “ngomong”,melambung tinggi di angkasa, tetapi tidak membumi dalam aksi, praktek, sikap dan perilakunya. Yang diajarkan adalah kerendahan hati tetapi yang dipraktekkan adalah arogansi. Yang diteriakan adalah pelayanan dan kasih, tetapi yang dipraktekkan adalah perebutan kuasa dan uang. Yang dikampanyekan adalah pro rakyat tetapi yang dipraktekkan adalah menindas dan memeras rakyat. Yang dipidatokan adalah demi kesejahteraan rakyat tetapi yang dipraktekkan adalah korupsi untuk memperkaya diri sendiri. Itulah ciri-ciri pemimipin yang tidak sehat secara spiritual.
Pemimpin yang tidak sehat secara spiritual juga mengakibatkan kepribadiannya terpecah antara sekat-sekat sekuler dan sakral. Lain dalam ibadah di hari minggu, lain pula dalam hidup setiap hari. Memimpin dengan pribadi ganda tercermin dalam sikap, cara dan gaya hidupnya yang membuahkan kesenjangan antara apa yang diajarkan dengan apa yang dilakukannya, antara hidup ritual dengan hidup sosial, antara iman dengan perbuatannya sehari-hari, antara kesalehan pribadi dengan keadilan sosial. Fenomana ini tidak hanya berdampak dalam kehidupan bermasyarakat tetapi juga dalam kehidupa bergereja. Dalam masyarakat di Eropa dan Amerika semakin tak nampak perbedaan yang signifikan antara orang sekuler dengan orang beragama. Iman dan moralitas tidak berdampak secara sginifikankan dalam cara dan gaya hidup orang beriman. Di Indonesia, kekerasan rumah tangga, skandal seks, perceraian, korupsi, pungli, nepotisme, kolusi sudah lazim dijumpai dalam praktek kehidupan orang beragama. Di Amerika, penginjil-penginjil “top”, yang sukses menjual Injil sebagai komoditi bisnis menghasilkan omzet pendapatan milyaran dollar, tapi tidak membayar pajak. Gaya hidup mereka yang mewah, tak kalah dari kaisar-kaisar Romawi tempo dulu, turut menampilkan gaya hidup yang egois, materialistik, dan hedonistik. “Menurut survey Gallup dan ahli sosiologi, salah satu skandal terbesar di masa kini adalah orang Kristen Injili sebenarnya menjalani gaya hidup yang hedonistic, materialistik, egois dan seks yang tidak bermoral sama seperti dunia pada umumnya” (Scazzero:39).
Pemimpin sebagai Pelayan dan Gembala
Gambaran pemimpin sebagai pelayan dan gembala dalam Alkitab digunakan untuk pemimpin sekuler maupun sakral. Tidak ada pembedaan nilai dan karakter antara pelayan dan gembala yang bekerja dan melayani di dunia religius dan dunia sosial, ekonomi, politik, budaya, dll. Istilah pelayan atau gembala digunakan tanpa membeda wilayah sakral dan profan. Dengan kata lain, gambaran pelayan dan gembala sebagai pemimpin dapat digunakan bagi pemimpin keagamaan maupun pemimpin pada umumnya. Sekarang ini memang istilah pelayan dan gambala lebih dikhususkan kepada pemimpin dalam lembaga keagamaan, khususnya gereja, sehingga kalau orang bicara tentang pelayan atau gembala selalu diasosiasikan dengan pemimpin di gereja.
Dalam Alkitab, istilah pelayan atau hamba dapat dikenakan kepada individu (budak, pelayan istana, raja, imam, nabi, rasul, diaken, dsb) dan kepada komunitas (Israel). Begitu juga istilah gembala dapat dikenakan kepada Allah, Kristus, raja Israel, raja kafir, pahlawan, gembala domba, pelayan-pelayan Kristus, dsb. Dengan demikian, gambaran pemimpin sebagai pelayan atau gembala dapat diterapkan baik kepada pemimpin dalam lembaga keagamaam maupun pemimpin di lembaga-lembaga non-keagamaan (ekonomi, politik, sosial, budaya, dsbnya). Karena itu, makna gambaran pemimpin sebagai pelayan dan gembala yang menyerahkan dirinya secara utuh dan penuh kepada orang yang dipimpinnya bukan tergantung pada bidang pekerjaannya (agama, ekonomi, sosial, kesehatan, politik, kebudayaan, dsb), tetapi pada motivasi, nilai dan karakter kepemimpinannya.
Gambaran pemimpin sebagai pelayan memperlihatkan bahwa walaupun tidak semua pelayan itu pemimpin, namun pemimpin sejati memiliki sikap dan semangat seorang pelayan. Memimpin seperti mengarahkan, merencanakan, mendelegasikan wewenng, mengawasi, mengorganisir, mengambil keputusan, dll adalah pelayanan. Memimpin itu berarti pelayanan dan pengabdian. Pemimpin yang melayani bukan hanya pemimpin yang memiliki ketrampilan (a skilled leader), kemampuan (a capable leader), tetapi juga mempunyai hati seorang pelayan. Pemimpin yang menghamba sekaligus hamba yang memimpin. Pemimpin itu memiliki motivasi seorang abdi, bukan tuan. Karena pelayanan bukan saja masalah perbuatan tetapi juga masalah sikap dan motivasinya.Motivasinya menentukan bagaimana ia menggunakan kekuasaannya, apakah sebagai hamba atau majikan. Karena itu, orang bisa melayani tanpa memilik sikap hati seorang pelayan dan kepemimpinannya bukan kepemimpinan yang menghamba (servant leadership). Ukuran kebesaran kepemimpinan yang menghamba terletak pada motivasi dalam pelayanannya, bukan pada jabatan dan kekuasaannya. Sama seperti dikatakan Yesus: “ Kita tahu bahwa pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidak demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya” (Mrk 10:43,44)
Di kalangan orang Kristen kata “ pelayanan” paling sering digunakan. Akan tetapi, pada umumnya pelayanan dikaitakan dengan pelayanan kepada Tuhan. Akan tetapi, pelayanan kepada Tuhan telah direduksikan kepada pelayanan ritual seperti kebaktian, doa, kebangunan rohani, ibadah puji-pujian, dsb atau kepada kegiatan organisasi gerejawi. Akibatnya, tugas pemimpin gereja lebih diarahkan pelayanan ritual dan kelembagaan daripada pelayanan sosial. Penekanan yang terlalu kuat pada aspek ritual dan kelembagaan ini menyebabkan pelayanan dipahami sebagai alat untuk meningkatkan kegiatan ritual atau alat untuk memperkuat organisasi. Akibatnya, pelayanan kehilangan makna pelayanan sosial bagi masyarakat luas. Hambatan yang paling besar, bukan tidak adanya kemauan dan tekad, melainkan hambatan struktural-parokial yang membentuk mindset warga gereja pada pelayanan sebagai kegiatan-kegiatan di dalam gereja itu sendiri dan terbatas pada sosok pendeta, majelis jemaat dan warga jemaat. Karena itu, dibutukan perubahan mindset terhadap pelayanan, agar pelayanan itu dilihatkan sebagai tugas dan panggilan semua warga jemaat di mana saja mereka bekerja (di kantor, pasar, toko, sekolah, dll) dan pelayanan itu tidak hanya menjadi alat untuk peningkatan kesejahataraan warga jemaat, tetapi juga kesejahteraan sesamanya manusia. Pelayanan holistik dan menyeluruh itu tidak hanya menyangkut orang-orang seiman tetapi juga orang-orang tidak seiman bahkan seluruh ciptaan Allah. Pelayanan tidak hanya terjadi lingkungan organisasi gereja tetapi juga dalam lingkungan kehidupan semua ciptaan Tuhan di bumi.
Salah satu ciri pemimpin sebagai pelayan ialah memiliki sikap kerendahan hati. Rendah hati bukanlah rendah diri, inferiority complex. Rendah hati berarti ia memiliki kesadaran bahwa kuasa adalah anugerah Allah yang diberikan kepadanya untuk melayani kebutuhan orang yang dipimpinnya dalam jangka waktu tertentu, bukan untuk memerintah, menguasai dan menaklukan orang yang dipimpinnya demi keabadian kepentingan dan keinginannya sendiri. Rendah hati juga berarti melayani tanpa pamrih. Ia melayani dengan memperhatikan kebutuhan mereka yang dilayaninya, bukan untuk mencari nama, popularitas dan kepentingan diri sendiri. Karena itu,kemimpinanannya lebih bersifat egaliter dan partisipatif. Ia adalah pemimpin yang sadar akan panggilannya melampaui status dan jabatannya. Ia rela berkorban dengan menciptakan semangat bagi mereka yang dipimimpinnya untuk ikut memiliki (sense of belonging), turut terlibat dan berpartisipasi secara aktif dalam pelayanan . Salah satu wujud kerendahan hatinya ketika ia mampu menggerakan mereka yang dipimpinnya terlibat dan berperan-serta dalam pelayanan; ia tidak ingin menguasai, mendominasi dan memonopoli pelayanan.
Kepemimpinan pelayan juga memberdayakan orang lain melalui kualitas keteladanan bimbingan, kepedulian, kesetiaan, kepercayaan dan tanggung-jawab. Kepemimpinan pelayan tidak bersifat hierarkhis, yang menggunakan kuasa komando, komunikasi satu arah dan pemaksaan atas orang yang dipimpinnya melainkan lebih bersifat persuasif dan partisipatif dengan komunikasi dua-arah yang egaliter. Ia rela berkorban dengan bersedia mendelegasikan wewenangnya pada orang-orang yang dipimpinnya.
Pemimpin sebagai pelayan melayani dengan hati, tidak hanya dengan akal budi. Ia melayani dengan cinta yang rela berkorban , komitemen yang kuat, terbuka untuk mendengarkan dan memahami, menumbuhkan sikap saling mendukung, kerja sama, perduli, berempati dan menghormati mereka yang dipimpinnya. Ia adalah pemimpin yang melayani dari hati yang berbela kasih dan berbela rasa (empati) kepada mereka yang dipimpinnya
Pemimpin sebagai gembala mencirikan kepemimpinan yang berfokus kepada kebutuhan “domba-domba” atau orang-orang yang dipimpinnya. Ia benar-benar mengenal kondisi dan kebutuhan mereka yang dipimpinnya. Ia berupaya memberi sentuhan dan kontak pribadi dalam hubungan dengan orang-orang yang dipimpinnya. Ia selalu hadir dan siap untuk memberi bimbingan, tuntunan, pendampingan kepada mereka yang dipimpinya. Ia menjadi pemimpin yang membimbing dan menuntun dengan lebih mengutamakan pendekatan “pastoral” daripada pendekatan kekuasaan.
Salah satu ciri pemimpin sebagai gembala ialah ia selalu memimpin dari depan yaitu ia memiliki visi ke depan dan mampu mengkomunikasi visi dan tujuan kepada mereka yang dipimpinnya. Dalam mewujudkan visi ke depan, ia berani mengambil resiko, berani bertindak sesuai dengan keyakinan dan hati nuraninya.bahkan ia rela memberi seluruh hidupnya dalam menghadapi segala tantangan dan ancaman. Dalam menghadapi berbagai kesulitan, tantangan dan ancaman, ia tidak mencari keselamatan dan keamanannya sendiri, tetapi ia berani memikul tanggung-jawab dengan segala risiko penderitaan.
Ciri yang lain dari pemimpin sebagai gembala ialah ia selalu menaruh perhatian dan keperdulian kepada mereka yang terhilang, terluka, terlupakan dan terbuang dalam masyarakat. Ia rela memberi seluruh totalitas dirinya untuk kebaikan, keadilan dan kesejahteraan orang-orang yang dipimpinnya. Ia rela berkorban dengan lebih mendahulukan kebutuhan orang-orang yang dipimpinnya daripada kepentingannya sendiri. Ia rela berkorban dengan mendahulukan pelayanannya kepada mereka yang mengalami penindasan, ketidakadilan, kemiskinan, kekerasan, pelanggaran HAM, dsb.
Kepemimpinan dalam Gereja
Semua yang dikemukan di atas juga berlaku bagi kepemimpinan dalam Gereja. Kepemimpinan Gereja harus mencerminkan kepemimpinan Yesus sebagai hamba Tuhan dan Gembala yang baik. Memimpin dengan hati seorang pelayan berarti memimpin dengan semangat pelayanan, dengan motivasi dan sikap hati seorang pelayan. Karena itu dalam kepemimpinan Gereja mutlak diperlukan kerendahan hati dan penyangkalan diri. Bukti kerendahan hati dan penyangkalan diri adalah pelayanan tanpa pamrih, tidak mencari kepentingan diri sendiri. Ia bebas dari pamrih, bebas dari mencari nama dan kepentingan diri sendiri. Pemimpin yang melayani dengan pamrih, cenderung mengejar takhta dan harta, gemar melahirkan persaingan yang tidak sehat, klik-klik yang memecahkan umat. Klik-klik adalah tanda pamrih bahwa pemimpin itu tidak memiliki sikap hati seorang pelayan. Kerendahan hati sesungguhnya adalah sikap hati, bukan sekedar sikap lahiriah. Kerendahan hati tidak cukup dibuktikan dengan kata-kata yang merendah, namun keluar dari hati yang pongah. Tidak cukup diperlihatkan dengan sikap bermuka manis, namun tangan yang siap menikam.
Pemimpin yang melayani secara utuh bukan hanya dalam formulasi dan kata-kata indah tetapi dalam aksi. Akan tetapi, melayani bukan sekedar aktivisme. Penganut aktivisme adalah pekerja keras yang selalu sibuk, berkeringat dan capek melayani, namun tidak tahu apa dan untuk apa semua yang dikerjakannya. Ia melayani tanpa berbela kasih dan berbela rasa (empati) terhadap orang yang dilayaninya. Ia melayani tanpa menyadari kepentingan siapakah yang dia utamakan dalam pelayanannya. Ia melayani tanpa arah dan makna karena ia tidak pernah rela memberi hidupnya secara utuh dan total dalam pelayanannya.
Tugas seorang pemimpin Gereja sebagai pelayan adalah memberi teladan (Yoh 13:13-14). Teladannya ialah menjadi hamba yang setia dan dapat dipercayai dalam segala hal yang dikerjakannya. Hamba-hamba yang tidak setia dan tidak dapat dipercayai adalah materialis-materialis yang serakah dan gila harta, megalomania yang mabuk kuasa, demagog-demagog yang fasih lidah. Mereka bukan pelayan yang baik dan bukan pula pemimpin yang melayani.
Seorang pemimpin gereja di masa kini harus memiliki keberanian seperti seorang gembala yang rela mengorbankan nyawanya bagi domba-dombanya. Masyarakat membutuhkan pemimpin yang berani berhadapan dengan tantangan, ancaman dan masalah. Ia berani mengambil keputusan yang rumit dan berat dengan segala risikonya. Ia berani memilih kebijakan yang tidak popular demi menyuarakan suara kenabian dan mempertanggungjawabkannya kepada umat yang dipimpinnya.
Seperti gembala yang memimpin dari depan, demikianlah pemimpin gereja harus memiliki visi ke depan, visi tentang berbagai masalah yang kompleks dalam kehidupan gereja masayarakat, bangsa dan Negara dalam mempersiapkan generasi yang akan datang. Visi dan perencanaan ke depan yang konkrit dalam mewujudkan kehadiran tanda-tanda kerjaan Allah di bumi, membuat mereka yang dipimpinnya disemangati, didukung dan diberdayakan untuk turut terlibat dan berpartisipasi dalam pelayanan di seluruh bidang hidup. Besarnya partisipasi umat adalah tanda bahwa pemimpin itu sosok dapat dipercayai, memiliki integritas dan kualitas moral, komitmen pada keadilan dan kebenaran. Ia berani mengambil risiko sesuai dengan keyakinan dan hati nuraninya. Ia rela mengorbankan hidupnya demi kepentingan seluruh ciptaan Allah. Ia bersedia terbuka untuk dikritik dan dikoreksi bila ada kesalahan dan kekeliruan dalam kepemimpinanya. Ia berani memberi pertanggungwaban kepada siapa saja yang minta pertanggungjawaban darinya. Seperti gembala yang baik ia selalu memimpin dengan keperdulian, perhatian dan empati kepada mereka yang lemah, miskin, terluka, terhilang dan terbuang karena ia menemukan kehadiran Tuhan di antara mereka yang miskin, lemah, menderita, terluka dan terhilang dalam kehidupan bergereja, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (Mat 25:40. Hanya dengan demikian, kepemimpinan Gereja mampu memantulkan cahaya Injil Kristus kepada segala makhluk.
Daftar Pustaka
D’Souza A, Ennoble, Enable Empower (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009)
Eka Darmaputera, Pemimpin Yang Memimpin(Yogyakarta: Kairos, 2013)
Franz Magnis Suseno, Iman dan Hati Nurani(Jakarta: Obor, 2014)
Scazzero P, Emotionally Healthy Spirituality (Nashville: Thomas Nelson, 2006)
Singgih G.E, Reformasi dan Transformasi Pelayanan Gereja Menyongsong Abad 21 (Yogyakarta: Kanisius, 1997)
No comments:
Post a Comment