Allah
Kehidupan dan Ciptaan-Nya: suatu
kajian Teologis
Pendahuluan
Dalam
persidangan Sinode Gereja Protestan Maluku ke 37, tahun 2016, diangkat tema
“Allah Kehidupan, tuntunlah kami untuk Membela dan Merawat kehidupan (Kej
2:7,15-17). Tema ini diangkat dari pergumulan Gereja Protestan Maluku terhadap berbagai masalah kehidupan, baik
kehidupan manusia maupun kehidupan alam semesta. Kualitas kehidupan ciptaan
Allah telah banyak mengalami degradasi menuju kehancuran. Hampir setiap hari
dapat didengar dan dilihat berbagai peristiwa baik lokal, nasional, global yang
memprihatinkan, karena ternyata kehidupan ini terus didominasi dan
dieksploitasi oleh kuasa-kuasa kematian yang destruktif. Berbagai masalah
sosial-teologis dalam kehidupan gereja, masyarakat, bangsa dan negara memperlihatkan manusia semakin dijerumuskan
ke dalam jurang globalisasi budaya keserakahan yang merusak dan menghancurkan
kehidupan bersama semua ciptaan Allah.Tema “Allah kehidupan, tuntunlah kami untuk
membela dan merawat kehidupan”(Kej2:7,15-17) merupakan sebuah doa, yang hendak
mengungkap sikap dan pengakuan iman gereja bahwa Allah itu pusat, sumber,
penopang dan tujuan Kehidupan. Karena itu, Allah itu mencintai dan
memperdulikan kehidupan ini. Pengakuan iman terhadap Allah kehidupan
menimbulkan pertanyaan, mengapa Allah begitu mencintai dan perduli dengan kehidupan
ini? Apa makna pengakuan iman itu terhdap kehidupan umat? Bagaimana seharusnya
sikap umat dalam meresponi sikap iman mereka kepada Allah kehidupan di dalam
kehidupan bergerja, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, sehingga sikap iman mereka itu berdampak
secara signifikan dan relevan terhadap semua ciptaan Allah? Untuk menjawab
masalah-masalah tersebut. maka perlu dibahasa beberapa pemikiran teologis tentang Allah kehidupan dan bagaimana seharusnya
ekspresi dan perwujudan pengakuan iman gereja kepada Allah kehidupan di dalam
kehidupan seluruh ciptaanNya?
Allah
kehidupan yang mencintai kehidupan
Gambaran Allah yang melandasi seluruh hidup dan karya Yesus adalah
gambaran tentang Allah kehidupan yang mencintai kehidupan. Kehidupan diselimuti
oleh rahmat dan kasih-setia Allah. Seluruh ciptaan Allah dipenuhi dengan
kemuliaan Allah, kemurahan dan pemeliharaan Allah (Mat 6:26-33). Allah
mencintai kehidupan adalah Allah yang
berbelas kasih (Mat 18:21-35) dan bermurah hati terhadap semua
ciptaanNya(Mat 20:1-16) . KasihNya tidak membeda-bedakan manusia; Dialah “yang
menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan
hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat 5: 45). KasihNya
tak terpahami, melampaui segala perhitungan untung-rugi (Luk 15:11-32). Allah, Sang pencinta kehidupan yang berkenan melibatkan kita dalam tindakan dan karyaNya di
bumi merupakan wujud konkrit dari belas
kasih, kebaikan dan kemurhanNya bagi seluruh ciptaanNya.
Gambaran Yesus tentang Allah yang mencintai
kehidupan tanpa pamrih mengungkap sikap belas kasih (compassion) dan kemurahan Allah bagi semua ciptaan-Nya. Seperti
gembala yang baik Ia datang untuk memberi hidup bagi domba-dombanya. Ia datang
supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan (Yoh
15:9-10).
Gambaran Allah yang mencintai dan memberi
kehidupan sebenarnya sama sekali tidak bertentangan gambaran Allah yang
tersembunyi (Allah yang transenden). Karena Allah yang imanen adalah juga Allah
yang transenden. Allah itu sangat dekat dengan kehidupan ciptaan-Nya, tetapi Ia
juga secara kualitatif tidak sama dengan ciptaanNya. Ciptaan-Nya tidak ilahi
dan tidak dapat disamakan dengan sang PenciptaNya. Karena itu gereja menolak
pandangn panteisme yang menyamakan ciptaan dengan Sang Pencipta.
Gambaran Allah yang transenden baru menjadi persoalan kalau Allah
digambarkan sebagai Allah yang jauh dari kehidupan ciptaanNya (supernatural theism) dan tidak perduli
dengan penderitaan ciptaanNya.
Ia hanya suka mengamat-amati dan mengawasi ciptaanNya kalau ada yang kedapatan melakukan
kesalahan dan dosa, ia langsung bertindak untuk menghakimi dan menghukum
mereka. Dalam hubungan ini, Allah digambarkan seperti seorang penguasa yang
keras dan sewenang-wenang, suka marah, suka menghakimi dan membalas dendam atas dosa dan kesalahan
manusia. Gambaran Allah seperti ini bukan saja melahirkan rasa berdosa, rasa bersalah dan tidak berharga
pada diri manusia, tetapi juga sikap yang tidak perduli dan tidak ramah
terhadap kehidupan ciptaanNya. Bahkan Gambaran Allah yang keras dan kaku, bisa membuahkan sikap dan perilaku yang penuh kebencian ,
permusuhan dan kekerasan terhadap sesama
ciptaanNya.
Allah
Pencipta dan Pemilik Kehidupan
Pengakuan bahwa Allah itu pencipta dan
pemilik kehidupan berarti manusia hendak ditempatkan sebagai makhluk ciptaan-Nya,
bukan sang pencipta dan pemilik
kehidupan. Anugerah Kehidupan itu
diberikan bukan karena keunggulan
manusia tetapi karena kasih dan rahmat Allah bagi semua ciptaan-Nya (manusia
dan alam). Itu berarti manusia tidak boleh
menjadikan dirinya sebagai penguasa dan pemilik yang
menguasai dan memanfaatkan kehidupan hanya untuk kepentingannya sendiri,
karena Allah memberi kehidupan itu bukan saja untuk manusia melainkan juga untuk
seluruh ciptaan-Nya. Manusia diciptakan dari tanah, karena itu ia adalah juga
bagian dari alam (Kej.2:7) yang kehidupannya bersumber dari Allah. Oleh karena
itu, gereja perlu menggeserkan paradigma
antroposentris yang menjadikan manusia sebagai pencipta dan pemilik kehidupan seluruh
ciptaan. Kehidupan yang diciptakan dan dimiliki Allah tidak lagi berpusat pada
manusia sebagai pusat segala sesuatu dan alam hanya dimaknai demi kepentingan
manusia. Demikian juga , kehidupan yang diciptakan Allah tidak hanya berpusat
pada alam (ekosentrisme), alam demi dan untuk alam. Kehidupan yang berpusat
pada Allah memandang seluruh ciptaan Allah sebagai kesatuan dan keutuhan yang
semua unsur saling membutuhkan dan menopang, saling memberi dan menerima secara
proporsional dan berkesinambungan.
Sikap dan perilaku manusia yang mengakui
Allah sebagai pencipta dan pemilik kehidupan ialah memperlakukan seluruh
ciptaanNya sebagai milik Allah yang baik dan patut dihargai dan dihormati. Karena itu,
manusia bersikap positif terhadap ciptaan Allah. Ia terpanggil untk
menatalayani ciptaan-Nya dan mempertanggungjawabkannya kepada Allah sebagai
Sang Pencipta dan pemilik kehidupan. Manusia tidak boleh menjadikan dirinya
sama seperti Allah sebagai pencipta dan pemilik kehidupan (Kej. 3:5) .
Kesombongan ini adalah akar dosa yang merusak dan menghancurkan seluruh
ciptaan milik Allah.
Walaupun manusia itu juga bagian dari alam
yang terbatas, tetapi ia diciptakan sebagai imago
dei (gambar Allah). Akan tetapi, Imago
dei tidak bersangkutan dengan sifat-sifat manusia atau kedudukan khusus
manusia yang lebih unggul daripada ciptaan yang lain, tetapi dengan relasi
manusia dengan Allah dan sesama
ciptaanNya. Hakikat manusia ialah karena ia diciptakan dalam relasi yang
fungsional dengan Allah dan sesama ciptaanNya.
Imago dei mengacu kepada harkat dan martabat manusia, seluruh
kemanusiaannya. Penghormatan kepada harkat dan martabat manusia adalah juga
penghormatan kepada Allah. Karena itu,
ia diciptakan untuk menerima dan memberi , mengelola dan memelihara,
memanfaatkan dan melestarikan alam dalam
kebebasan dan tanggung-jawab kepada Allah kehidupan. Sebagai Imago dei, manusia bukanlah raja yang
memiliki kekuasaan mutlak untuk menguasai ciptaan lain dengan sewenang-wenang.
Manusia adalah penatalayan yang dipercayakan Allah untuk melayani seluruh
ciptaan dan mempertanggungjawaban penatalayanan dan pelayanannya kepada Allah
kehidupan.
Allah
, Pemelihara dan Penebus Kehidupan
Pandangan khas tentang Allah di masa
pencerahan disebut deisme.Dalam deisme Allah tidak lagi dipahami sebagai
dekat dengan manusia, yang mengerjakan mujizat-mujizat dan bertindak di dalam
sejarah, memperdulikan manusia dan memelihara alam semesta. Proses-proses alam semesta berjalan menurut
hukum alam, tanpa campur tangan Allah. Orang masih percaya kepada Allah tetapi
Allah tidak berurusan dengan dunia, sama sekali tidak berhubungan dengan
manusia dan alam.
Pandangan deisme ini bertentangan
dengan pengakuan bahwa Allah itu bukan saja pencipta, tetapi juga pemelihara
dan penebus kehidupan yang turut terlibat dalam kehidupan ciptaan-Nya.
Dalam iman Kristen, Allah tidak hanya
diakui sebagai pencipta dan pemilik kehidupan, tetapi juga sebagai pemelihara
dan penebus kehidupan. Karena itu Allah menjadikan manusia sebagai mitraNya
(kawan sekerjaNya) untuk membela,
melindungi, memelihara dan merawat kehidupan.
Allah menciptakan semua ciptaanNya itu baik bahkan amat baik (Kej 1:
10,12,17,21,25,31). Itu berarti kebaikan dan keindahan kehidupan ciptaanNya
perlu terus dipelihara, dirawat bahkan dibela sehingga tidak “dirampok” , dirusaki dan dihancurkan oleh
ulah manusia. Dalam hubungan ini gereja perlu membuka telinga untuk mendengar
jeritan manusia dan alam yang telah
ditindas, dieksploitasi dan dirusakan oleh ulah manusia sendiri. Jeritan rakyat
kecil adalah jeritan untuk hidup. Jeritan
perjuangan untuk membela dan merawat hidup tanpa menyerah. Jeritan
mereka didengar oleh Allah (Kel 3:1-8).
Jeritan untuk hidup tidak hanya diteriakkan oleh manusia tetapi juga seluruh
alam semesta (Yes 24:3-8; Rm 8:19-23) yang menderita akibat keserakahan manusa.
Dengan demikian, gereja perlu mengemban misi keadilan Allah kepada semua
ciptaan-Nya dalam rangka pertanggungjawaban kepada Sang Pencipta.
Allah yang berinkarnasi dalam Kristus
membawa shalom Allah bagi seluruh ciptaan dengan jalan menebusnya dari pengaruh
dan kuasa dosa. Ia tidak saja menebus
dan memperdamaikan diri-Nya dengan manusia tetapi juga dengan alam. Dalam
Yesus Kristus Allah telah memperdamaikan diriNya dengan seluruh ciptaan-Nya dan
menyelamatkan mereka (Kol 1:15-20; Ef. 1: 3-14; 2 Kor 5:18-19; Rm 8: 19-22; 1 Kor 15-:24-28).
Kehidupan
yang holistik dan transformatif
Kehidupan yang diberikan Allah adalah kehidupan yang “berkelimpahan”( Yoh 10:110b) bagi semua ciptaan-Nya. Kehidupan yang berkelimpahan
itu cukup bagi kebutuhan semua
ciptaan-Nya, tetapi tidak cukup bagi keserakahan manusia. Karena itu kekayaan
kehidupan yang beranekaragam (keragaman species) harus dikelola, dipelihara dan dilindungi
secara bertanggung-jawab untuk kesejahteraan semua ciptaan-Nya. Dengan
demikian, upaya gereja mengembangkan
kesejahteraan hidup tidak boleh hanya berorientasi pada kepentingan manusia
tetapi kebutuhan seluruh ciptaan-Nya. Itu berarti Gereja harus terus menentang
dan melawan segala bentuk penguasaan dan eksploitasi-destruktif -karena
keserakahan manusia- yang mengakibatkan ketidakadilan sosial dan ketidakadilan
ekologis yang berdampak secara
menyeluruh bagi generasi di masa kini maupun di masa depan.
Kehidupan yang diberikan Allah adalah kehidupan
yang utuh dan menyeluruh (holistik). Karena itu, pandangan tentang kehidupan
yang dualistik-dikotomik perlu ditolak dalam iman Kristen. Ada kecenderungan manusia untuk
mengkotak-kotakkan hidup secara dikotomis-dualistis, baik relasi eksternal manusia
dengan kehidupan dunia di sekitarnya
maupun relasi internal manusia dengan dirinya sendiri . Gambaran
dikotomis-dualistik itu mempertentangkan antara yang superior dengan
inferior dalam kehidupan, antara lain: roh dan tubuh, spiritual dan material,
transenden dan imanen, sakral dan profan, iman dan kerja, gereja dan dunia, kontemplasi dan aksi, orang kudus dan pendosa, baka dan fana,
ketuhanan dan kemanusiaan, personal dan sosial.
Akibatnya terjadi cara pandang terhadap
kehidupan yang mengagungkan yang rohani-spiritual dan mengabaikan yang
jasmani-material atau sebaliknya.
Kehidupan
yang bersumber dari Allah adalah kehidupan yang utuh dan menyeluruh, saling
menopang, melengkapi dan tergantung satu dengan yang lain sebagai ciptaan
Allah. Karena itu, Gereja perlu menghayati kehidupan yang utuh dan menyeluruh
itu dalam seluruh pelayanan (diakonia), kesaksian dan persekutuan, sehingga gereja tidak terperangkap dalam pandangan yang
dualistik-dikotomik antara jasmani dan rohani, material dan spiritual, sakral dan profan, manusia dan alam, dunia
dan surga. Kehidupan yang utuh dan
menyeluruh memberi ruang bagi Allah dalam seluruh aspek kehidupan manusia:
sosial, ekonomi, politik, iptek, budaya,
agama, ekologi. Seluruh aspek kehidupan ini merupakan kesatuan yang utuh,
saling ketergantungan dan keterhubungan secara fungsional dan dinamis dalam
kehidupan (web of life). Dengan
demikian, orang beriman tidak menjadi terasing dari kehidupannya yang
nyata dan holistik.
Kehidupan yang diberikan Allah adalah juga kehidupan
yang saling terhubung dan tergantung satu dengan yang lain. Semua unsur saling
membutuhkan dan saling menopong dalam
keseimbangan yang dinamis. Cara
pandang ini membuat kita semakin menyadari betapa penting setiap unsur dalam kehidupan
untuk membangun kehidupan yang lebih berkualitas. Pengembangan kualitas hidup
manusia tidak boleh dipisahkan dari pengembangan kualitas alam dan sebaliknya.
Kehidupan yang saling terhubung dan
tergantung membuat kita semakin menyadari dengan rendah hati akan keterbatasan
kehidupan yang selalu membutuhkan satu dengan yang lain. Upaya untuk memutuskan
kesalingterhubungan dan ketergantungan justru membawa petaka dan bencana bagi
keutuhan dan kesatuan hidup. Kesalingterhubungan dan ketergantungan perlu terus
dikembangkan dan digalakkan dalam relasi
pemimpin dan umat, relasi manusia dan alam, relasi gereja dan masyarakat, relasi umat Kristen dengan
umat lain, relasi manusia dengan dirinya sendiri. Dengan demikian, gereja dapat
membangun jejaring kehidupan (web of life) di bumi sebagai rumah bersama.
Kehidupan yang diberikan Allah adalah juga
kehidupan yang berkelanjutan secara
dinamis dan transformatif. Kehidupan yang ada sekarang akan terus berubah dan
diubah menuju transformasi total pada
penggenapan eskatologis. Dalam proses transformasi kehidupan itu Allah
kehidupan melibatkan semua ciptaanNya untuk mengambil bagian di dalamnya.
Karena itu, segala masalah yang menyangkut kehidupan dewasa ini tidak membuat
umat berputus-asa dan apatis, tetapi dalam
pengharapan kepada Allah kita terus turut mengambil-bagian dalam proses
perubahan, perbaikan dan perkembangan kehidupan yang berkelanjutan menuju transformasi total, “langit baru dan bumi
baru”(Why 21)
Beberapa
Konsekuensi iman kepada Allah kehidupan
Iman kepada Allah kehidupan membawa
beberapa konsekuensi bagi kehidupan bergereja, bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara antara lain:
Pertama, gereja terpanggil untuk mengemban
tugas-panggilannya untuk mengelola, memelihara, menyelamatkan dan melestarikan
seluruh ciptaan Allah (bdk. Kej 1:26-28; Mzm 8). Tugas dan tanggungjawab Gereja
untuk membela, merawat dan menyelamatkan kehidupan adalah bagian integral
dari panggilan untuk menghadirkan tanda-tanda Injil Kerajaan Allah
atau shalom, yakni: keadilan, kesejahteraan,
perdamaian, persaudaran dan keutuhan ciptaan.
Upaya membela, merawat dan menyelamatkan kehidupan merupakan juga upaya
membuat manusia semakin menghormati dan menghargai harkat dan martabat sesama
ciptaan Allah (manusia dan alam) sebagai wujud kasih Allah kepada dunia
(bdk. Kej. 12:1-9; Luk 10:2537; Yer
22:3; Am. 5:15-24; Yoh 3:16).
Kedua, sikap syukur kepada Allah kehidupan mengandaikan
pengakuan akan kasih dan rahmat Allah yang tak terbatas dan sikap kerendahan hati gereja yang menyadari akan
keterbatasan manusia dalam pelayanan, kesaksian dan persekutuannya sekaligus
pengakuan akan kasih dan rahmat Allah yang menyertai semua ciptaan-Nya. Kerendahan hati itu dibutuhkan untuk melihat
kesalingterkaitan dan kesalingtergantungan antara para pelayan khusus dan
pelayan umum, antara pemimpin dan umat, antara gereja dengan agama-agama dan
denominasi lain, antara kualitas hidup manusia dengan kualitas alam. Dengan
sikap kerendahan hati ini, kita terhindar dari kultus individu dan pendeta-sentris
dan Jemaat-sentris. Kita semakin memahami perjalanan gereja sebagai kehidupan
yang utuh dan menyeluruh. Kita semakin menyadari betapa penting membangun sikap
kesetaraan dalam kesalingterhubungan dan ketergantungan yang dinamis dan
kreatif dengan seluruh ciptaan Allah (web
of life,”jejaring kehidupan). Kita bersyukur karena Allah telah, sedang dan
akan terus berkarya di dalam kehidupan manusia dan alam melalui
kesalingterhuhubungan dan kesalingtergantungan yang setara, sejajar,
kritis dan dinamis,baik secara internal
maupun eksternal, baik secara horizontal maupun
vertikal. Sikap syukur ini mendorong gereja untuk terus
memberdayakan seluruh ciptaan Allah sehingga proses kesalingterhubungan dan
kesalingtergantungan ini (jejaring kehidupan) secara positif dan kreatif
membuahkan buah-buah kehidupan baru sebagai ciptaan Allah yang baru kini dan di
masa depan.
Agar terwujud kesalingterhubungan dan
kesalingtergantungan kehidupan, maka kita perlu membangun kehidupan
“bersama-sama dan kebersamaan” yang
secara teologis juga bersumber dan
berakar pada iman kepada Allah tritunggal, Allah pesekutuan, Allah perichoresis (saling terkait satu sama
lain dalam ikatan kasih), sehingga sekalipun ada perbedaan, mereka selalu
bersama-sama terkait satu dengan yang lain dalam persekutuan. Dengan demikian,
bersama-sama dengan semua ciptaan dalam persekutuan merupakan kunci untuk
meningkatkan kualitas hidup manusia dan alam. Gereja tidak dapat dan tidak
boleh sendiri meningkatkan kualitas hidup manusia dan alam karena itu tidak
sejalan dengan kehendak Allah. Tugas panggilan untuk menghadirkan tanda-tanda
Kerajaan Allah di dunia tidak boleh dipikul gereja sendiri. Dalam bimbingan dan
tuntunan Roh Kudus, gereja perlu terus membuka ruang bagi peran-serta seluruh
ciptaan (jejaring kerja sama), termasuk umat beragama, yang berkehendak baik
guna memikul tugas dan tanggungjawab bersama.
Ketiga, Salah satu masalah kehidupan yang penting dewasa ini ialah bagaimana
manusia mampu membangunan ekonomi yang ramah lingkungan dan berkesinambungan.
Karena itu, Gereja yang berurusan dengan masalah ekonomi (globalisasi pasar),
perlu memberi perhatian khusus pada
sumber daya manusia dan sumber daya alam dalam menghadapi
pembangunan ekonomi di era globalisasi.
Dalam hubungan ini, pemberdayaan sumber daya manusia dan alam secara
bertanggungjawab perlu ditempatkan dalam kerangka diakonia gereja. Karena itu
pemberdayaan sumber daya manusia dan alam perlu diprioritaskan ketimbang
penguatan institusi gereja. Institusi gereja penting dan perlu sejauh ia tidak
menjadi tujuan pada dirinya sendiri tetapi alat untuk pemberdayaan umat
(manusia) dan alam secara holistik.
Oleh karena itu, gereja perlu mengembangkan
teologi ekonomi (oikonomia) untuk
menjawab masalah ekonomi dewasa ini. Untuk itu dari perspektif teologis,
pertama-tama perlu ditekankan bahwa masalah
ekonomi adalah juga persoalan iman. Karena itu, ekonomi (oikonomos) perlu
dipahami sebagai upaya penatalayanan
harta-milik Allah di bumi. Dari perspektif biblis Allah itu yang
memiliki seluruh ciptaanNya: “Tuhanlah yang empunyai bumi dan segala isinya,
dunia serta segala yang diam di dalamnya”(Mzm24:1); Tuhan selalu berkata bahwa
“apa yang ada di seluruh kolong langit adalah kepunyaanKu” (Ayb. 41:2), Namun
demikian, Allah mempercayakan pengelolaan, pengembangan, pemeliharaan,
perlindungan harta-milik-Nya kepada manusia. Manusia adalah penatalayan
harta-milik Allah dan bukan pemilik yang mutlak. Karena itu, wewenang dan
kekuasaannya harus dilaksanakan dengan menaklukkan diri kepada Allah. Apa pun
yang ia kerjakan, ia lakukan sebagai “oikonomos”Allah. Ia harus
mempertanggungjawabkannya kepada Allah. Ia tidak boleh menggunakan kekuasaannya
secara sewenang-wenang dan tanpa batas demi kepentingannya sendiri. Dalam kaitan ini, gereja tidak boleh
men-despiritualisasi makna oikonomia sehingga mengakibatkan pemisahan yang
tajam dan dikotomis antara ekonomi dengan diakonia, seolah-olah ekonomi menjadi
urusan di luar gereja sedangkan diakonia menjadi urusan di dalam gereja.
Sebagai
penatalayan milik Allah, manusia bertanggung jawab kepada Allah atas
kesejahteraan seluruh ciptaan yang mendiami bumi (oikumene). Itu berarti
manusia sebagai penatalayan harta-milik Allah, tidak boleh menggunakan
harta-milik Allah hanya untuk kepentingan dirinya sendiri dan mengabaikan
kesejahteraan sesama manusia dan sesama ciptaan yang lain (alam). Karena itu,
keadilan sosial dan keadilan ekologis harus mendapat ruang dalam pembangunan
ekonomi. Mengejar pertumbuhan ekonomi dengan mengabaikan keadilan sosial da:n
ekologis bertentangan dengan kehendak Allah.
Dalam hubungan ini, Gereja perlu terus
mendukung pembangunan ekonomi yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan bagi
semua ciptaan. Menurut Hans Kung “globalisasi ekonomi dan teknologi hampir
selalu memperluas masalah ekologi global:meningkatnya kerusakan alam dan polusi
laut dan sungai hingga peracunan dan pemanasan atmosfir, dan lobang lapisan
ozon…akhirnya ..juga mengakibatkan globalisasi kejahatan yang terorganisasi”. Karena itu, aktivitas ekonomi dan bisnis
bukan wilayah yang bebas moral melainkan wilayah yang membutuhkan landasan
moral yang kokoh. Kepentingan ekonomi tidak boleh dibatasi kepada kepentingan
profit semata (nilai ekonomis), tanpa penghargaan terhadapan lingkungan hidup.
Kesakralan alam tidak boleh diganti dengan gambaran dunia yang murni bersifat
materi dan bernilai ekonomis, sehingga nilai alam hanya bersifat instrumental
dan tidak memiliki nilai intrinsik pada dirinya.
Ekonomi sebagai penatalayanan harta-milik
Allah tidak boleh merugikan apalagi menghancurkan sesama ciptaan (manusia dan
alam), terutama mereka yang miskin, lemah, tertindas dan terpinggirkan. Karena
itu, Gereja perlu mendukung pembangunan ekonomi yang berpihak pada mereka yang
miskin, lemah, tertindas dan terpinggir (Am. 4:1-3; 5:11; Kel 23:6; Ul 15:7-11; 21:21-24; UL 24;19-22,dsb). Pembangunan
ekonomi yang berpihak kepada mereka yang miskin, lemah, tertindas dan
terpinggirkan (preference for the poor)
merupakan keharusan panggilan Gereja , bukan sekedar sebuah pilihan.
Penatalyanan harta milik Allah yang benar
pun tidak boleh didasarkan pada sikap yang menolak dan mengabaikan ekonomi dan
bisnis, seolah-oleh aktivitas ekonomi dan bisnis dianggap kotor dan bukan
masalah iman. Hilangkan mitos bahwa ekonomi dan bisnis itu urusan mamon, bukan
urusan Tuhan. Sekalipun demikian, memuja ekonomi dan bisnis sebagai
satu-satunya penyelamat seluruh ciptaan Allah sama buruk dengan mempersetankan
ekonomi dan bisnis sebagai bagian dari diakonia gereja. Sikap Gereja yang harus
dibangun bukan mengabaikan ekonomi dan bisnis dalam diakonia gereja, melainkan
mempertanggung-jawabkannya kepada Allah agar manusia yang terlibat dalam
ekonomi dan bisnis, tidak terjatuh kepada etos keserakahan global (etos
pemuasan diri sendiri) sehingga globalisasi ekonomi tidak membuahkan etos dan
struktur keserakahan. Dalam melawan etos dan struktur keserakahan global,
gereja perlu terus mendukung sistem
ekonomi global yang dilakukan atas dasar prinsip cinta kasih yang berorientas
kepada Allah, manusia dan alam semesta, dan mengutamakan keadilan, damai-sejahtera,
solidaritas dan sukacita bersama, dari semua untuk semua.
Keempat, dalam melawan etos dan struktur
keserakahan , Gereja perlu mendukung, menghayati dan menjalani spiritualitas keugaharian.
Spiritulitas keugaharian merupakan bagian dari proses pemuridan yaitu proses
pendewasaan iman umat agar dapat
memilih gaya dan etos hidup yang berkecukupan, tidak berkelebihan dan
tidak berkekurangan , jauh dari segala bentuk keserakahan di seluruh bidang
hidup manusia. Hidup ugahari adalah wujud pembebasan dari kungkungan
keserakahan manusia. Hidup berkecukupan tidak bertujuan hanya untuk mencukupkan
diri sendiri, tetapi mencukupkan semua ciptaan Allah.
Kelima, salah satu ancaman serius terhadap
kehidupan dalam masyarakat dewasa ini adalah masalah HIV-AIDS. Dalam menghadapi
ancaman HIV-AIDs secara serius , kita
perlu bertolak dari cara pandang yang
holistik terhadap HIV-AIDS (Human Immunodeficiency Virus – Acquired
Immunodeficiency Syndrome) .
HIV-AIDS bukan semata-mata persoalan penyakit dan kesehatan fisik, tetapi juga
persoalan yang berkaitan dengan sejumlah dimensi kehidupan (roh, jiwa, pikiran,
perasaan, lingkungan) yang perlu dipahami dalam konteks lokal, nasional dan
global. Oleh karena itu, Gereja tidak saja berjuang
melawan penyebaran virus HIV-Aids, tetapi juga berjuang untuk kepenuhan hidup
yang holistik dan membangun komunitas-komunitas yang inklusif di mana saudara
yang terinfeksi HIV-AIDS (Sadha/odha) dapat hidup dan mati secara bermartabat.
Masalah
HIV-AIDS bukan sekedar masalah pencegahan dan penanganan penyebaran virus
HIV-AIDS, tetapi juga masalah rasa malu, rasa bersalah, stigmatisasi sosial,
diskriminasi, kekerasan yang berdampak kepada kualitas hidup manusia, baik
secara fisik, psikis dan sosial-religius. Hak-hak dasar mereka yang terinfeksi
HIV-AIDS perlu dibela supaya mereka tidak kehilangan akses kepada perawatan
medis, pekerjaan, pendidikan, perkawinan, perumahan dan keamanan sosial yang mengakibatkan
keterasingan sosial, kemiskinan, stigmatisasi dan diskriminasi. Jadi, HIV-AIDS
tidak saja berkaitan dengan masalah penyakit fisik, tetapi juga berkaitan
hak-hak azasi manusia, keadilan sosial serta penghormatan kepada harkat dan
martabat manusia. Dengan demikan HIV-AIDS
tidak boleh saja menjadi masalah medis dan sosial-budaya melainkan juga masalah
teologis, etis dan spiritual
Gereja, bersama-sama dengan pemerintah dan
komunitas-komunitas yang lain (termasuk agama-agama yang lain), bisa memainkan
peranan penting dan berharga untuk memberi dukungan, pemahaman, pengetahuan,
konseling dan perawatan yang holistik terhadap
saudara yang terinfeksi HIV-AIDS (sadha/odha). Dalam kaitan ini, Gereja
perlu membentuk kelompok-kelompok pastoral gerejaw dan memberi
landasan-landasan teologis yang memadai menyangkut masalah-masalah
seperti: penyakit dan penderitaan, dosa
dan penghukuman Allah, penyembuhan
holistik, sikap terhadap orang yang lemah, termarjinalisasi, testigmatisasi dan
terdiskriminasi.
Pengembangan spiritualitas yang berbelas kasih (compassion), berbela rasa,
bermurah hati dan keramahtamahan (hospitality) perlu terus ditumbuh-kembangkan dalam
kehidupan bergerjea dan bermasyarakat. Selain itu , gereja perlu membentuk
komunitas-komunitas basis gerejawi dan manusiawi yang inklusif dan perduli
dalam memperjuangkan peningkatan kualitas hidup manusia dan alam, khususnya
Sadha/odha dan juga kelompok-kelompok rentan lainnya (seperti:
anak-anak, perempuan, disabilitas dan LBGTIQ).
Daftar Pustaka
Banawiratman. Y.B., Sumartana Th.,Widyatmadja Y.P, eds.
Merawat & Berbagi Kehidupan.
Yogyakarta: Kanisius,1994
Boff Leonardo, Kekristenan: Sebuah Ikhtisar.translated
by Josef Maria Florison. Maumere: Penerbit Ledalero, 2004
Borg. J. Marcus. The
God We Never Knew: Beyond Dogmatic Religion to A More Athentic Contemporary
Faith .New York: HarperCollins,
2009.
Borrong , Robert, P. Etika Bumi Baru. 3rd ed. Jakarta: BPK, 2003
Brown, Robert, MacAfee. Spirituality and Liberation: Overcoming the Great Fallacy. Philadelphia:
The Westminster Press,1998
Darmaputera Eka. Bisnis,
Ekonomi Dan Penatalayanan. Jakarta: BPK, 1990
Deane-Drummond, Celia. Teologi dan Ekologi Buku Pegangan. 2nd ed. Translated by
Robert P Borong. Jakarta: BPK, 2003
Kung Hans. Etika
Ekonomi-Politik Global. Translated by Ali Noer Zaman. Yogyakarta: Penerbit
Qalam, 2002
Kristiyanto Eddy,et al. eds. Dinamika Hidup Beriman : Bunga Rampai Refleksi Teologis.Yogyakarta:
Penerbit Kanisius, 2002
Longchar Wati., Senturias Erlinda., Kambodiji
Alphinus., eds. HIV And Inclusive
Community: Asian Theological and Biblical Perspectives. Hongkong: CCA, 2013
Magnis-Suseno Franz. Menalar Tuhan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2006
Martin Harun. “Paulus dan Penyelamatan Kosmos”. Forum Biblika: Jorunal Ilmiah Populer,no. 14 (2001): 67-85
Singgih Gerrit E. “Globalisasi dan Kontestualisasi
Menuju Pemahaman Baru tentang Realitas diri”. dalam Teologi Ekonomi. Edited by Robert Setio, 18-31. Jakarta: BPK, 2002
Wardaya Baskara,T. Spiritualitas
Pembebebasan: Refleksi atas iman Kristiani dan Praksis Pastoral.
Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1995.
Lihat: Marcus. J. Borg, The God We Never Knew: Beyond Dogmatic
Religion to A More Athentic Contemporary Faith (New York: HarperCollins, 2009), 9-32
Franz Magnis Suseno, Menalar
Tuhan (Jogyakarta: Penerbit Kanisius, 2006), 53-54
Lihat. Martin Harun. “Paulus dan Penyelamatan Kosmos”. Forum Biblika: Jorunal Ilmiah Populer,no. 14 (2001): 67-85
Lihat: Robert MacAfee Brown, Spirituality
and Liberation: Overcoming the Great Fallacy (Philadephia: The Westminster
Press, 1988), 25-26
Emanuel Gerrit Singgih, “Globalisasi dan Kontekstualisasi Menuju
Pemahaman Baru tentang Realitas Diri”, dalam Teologi
Ekonomi, ed. Robert Setio (Jakarta: BPK, 2002), 28
Hans Kung, Etika
Ekonomi-Politik Global: Mencari Visi Baru Bagi Kelangsungan Agama di Abad XXI.
trans. Ali Noer Zaman. (Yogyakarta: Penerbit Qalam), 279
Prwate Khid-am, “HIV and AIDSL Need For New Perspectives”. dalam HIV
And Inclusive Community: Asian Theological and Biblical Perspectives,.ed. Alphinus
Kambodji, Erlinda N. Senturias, Wati Longchar (Hongkong: CCA, 2013), 3-9